warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www.kawansejati.org/html/program/lib.php on line 582.

Bab 2.07 Kewajiban Istri Terhadap Suami




207 Tanggung Jawab Istri Terhadap Suami


  1. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    "Kaum laki-laki itu pemimpin wanita. Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) alas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan harta mereka. Maka wanita yang solehah ialah mereka yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada menurut apa yang Allah kehendaki. "
    "Wanita-wanita yang kamu kuatirkan akan durhaka padamu, maka nasehatilah mereka (didiklah) mereka. Dan pisahkanlah dari tempat tidur mereka (jangan disetubuhi) dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu bersikap curang. Sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi lagi Maha Besar." (An Nisa : 34)

  2. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    "Siapa saja isteri yang meninggal dunia, sedangkan suaminya redha terhadap kepergiannya, maka ia akan masuk Surga."
    (Riwayat Tarmizi)

  3. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    "Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki."
    (Riwayat Ahmad dan Thabrani)
  4. Seorang perempuan datang ke hadapan Nabi SAW lalu berkata, "Wahai Rasulullah SAW, saya mewakili kaum wanita untuk menghadap tuan (untuk menanyakan tentang sesuatu). Berperang itu diwajibkan oleh Allah hanya untuk kaum laki-laki, jika mereka terkena luka, mereka mendapat pahala dan kalau terbunuh, maka mereka adalah tetap hidup di sisi Allah. lagi dicukupkan rezekinya (dengan buah-buahan Surga). Dan kami kaum perempuan selalu melakukan kewajiban terhadap mereka (yaitu melayani mereka dan membantu keperluan mereka) lalu apakah kami boleh ikut memperoleh pahala berperang itu?"
    Maka Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu jumpai bahwa taat kepada suami dengan penuh kesadaran maka pahalanya seimbang dengan pahala perang membela agama Allah. Tetapi sedikit sekali dari kamu sekalian yang menjalankannya."
  5. Sayidina Ali k.w.j. berkata: "Seburuk-buruk sifat bagi kaum laki laki itu adalah sebaik-baik sifat bagi kaum perempuan yaitu kikir dan bersikap keras dan takut. Karena sesungguhnya perempuan itu jika kikir, maka ia memelihara harta suaminya dan jika bersikap keras, maka ia menjaga diri dari berbicara kepada setiap orang dengan perkataan yang halus (mesra) yang menimbulkan sangkaan yang buruk, dan jika penakut. maka ia takut dari segala sesuatu, oleh karena itu ia tidak berani keluar dari rumahnya dan ia menjauhi tempat-tempat yang menimbulkan kecurigaan yang buruk karena takut kepada suaminya".
  6. Seharusnya seorang isteri mengetahui kedudukan dirinya seolah olah seorang 'hamba' perempuan yang dimiliki oleh suaminya atau sebagai 'tawanan' yang lemah. Oleh karena itu dia tidak boleh membelanjakan sedikit pun dari hartanya (sendiri) kecuali dengan seijin suaminya karena ia diumpamakan sebagai orang yang dalam kawalan (perhatian).
  7. Wajib bagi seorang isteri:
    • Merendahkan pandangannya terhadap suaminya.
    • Tidak berkhianat terhadap suaminya ketika suaminya tidak ada termasuk juga hartanya.
    • Menunaikan hajat suami (jika diajak oleh suaminya) biarpun di waktu sibuk atau susah (ditamsilkan berada di punggung unta oleh Rasulullah).
    • Meminta ijin suami untuk keluar dari rumahnya. Kalau keluar rumah tanpa ijin suaminya maka dia dilaknati oleh malaikat sampai ia bertaubat dan kembali.
  8. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda, maksudnya:
    "Sungguh-sungguh meminta ampun untuk seorang isteri yang berbakti kepada suaminya yaitu burung di udara, ikan-ikan di air dan malaikat di langit selama ia selalu dalam kerelaan suaminya. Dan siapa saja dikalangan isteri yang tidak berbakti kepada suaminya, maka ia mendapat laknat dari Allah dan malaikat serta semua manusia. "
  9. Siapa saja di kalangan isteri yang bermuka masam di hadapan suaminya, maka ia dalam kemurkaan Allah sampai ia dapat membuat suasana yang menggembirakan suaminya dan memohon kerelaannya.
  10. Aisyah r.ha berkata:
    "Wahai kaum wanita Seandainya kamu mengerti kewajiban terhadap suamimu, tentu seorang isteri akan menyapu debu dari kedua telapak kaki suaminya dengan sebagian mukanya."
  11. . Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    "Tiga orang yang tidak diterima sholatnya (tidak diberi pahala sholatnya) oleh Allah dan tidak diangkat kebaikan mereka ke langit ialah: hamba yang lari dari tuannya hinggalah dia kembali, seorang isteri yang dimurkai oleh suaminya hinggalah dia memaafkannya, orang yang mabuk hingga dia sadar kembali."
  12. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    "Jika seorang isteri berkata kepada suaminya: Tidak pernah aku melihat kebaikanmu sama sekali, maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya."
    Keterangan:
    Maksud Hadis ini ialah jika seorang isteri memperkecilkan usaha baik suaminya seperti dalam memberi nafkah dan memberi pakaian maka hancur leburlah pahala amal kebaikannya.
  13. Nabi Muhammad SAW bersabda, maksudnya:
    "Siapa saja isteri yang meminta cerai dari suaminya tanpa sebab-sebab yang sangat diperlukan, maka haramlah bau Surga ke atasnya."
    Keterangan:
    Hal ini biasanya terjadi pada seorang isteri yang tidak berminat kepada suaminya lagi kecuali kalau dia meminta cerai kepadanya karena kuatir tidak dapat menjalankan kewajiban terhadap suaminya untuk menghindarkan diri dari kekecewaan suaminya.
  14. Nabi SAW bersabda maksudnya:
    "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada seorang isteri yang tidak bersyukur kepada suaminya."
    Keterangan:
    Hal ini biasa terjadi pada suami yang miskin dan isteri yang kaya. Lalu isteri itu menafkahkan hartanya kepada suaminya, kemudian mengungkitnya.
  15. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    "Pertama urusan yang ditanyakan kepada isteri pada hari Kiamat nanti ialah mengenai sholatnya dan mengenai urusan suaminya (apakah ia menjalankan kewajibannya terhadap suaminya atau tidak). "
  16. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    "Empat perempuan yang berada di Neraka ialah:
    Perempuan yang kotor mulutnya terhadap suaminya. Jika suaminya tidak ada di rumah ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya bersamanya ia memakinva (memarahinya). Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang suami tidak mampu.
    Perempuan yang tidak menjaga auratnya dari kaum laki-laki dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik kaum laki laki).
    Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan minum dan tidur, dan ia tidak mau berbakti kepada Allah dan tidak mau berbakti kepada Rasul-Nya dan tidak mau berbakti kepada suaminya."

    Keterangan:
    Seorang perempuan yang bersifat dengan sifat-sifat ini akan dilaknati kecuali jika dia bertaubat.
  17. Al Hakim bercerita bahwa seorang perempuan berkata kepada Nabi SAW: "Sesungguhnya putera bapa saudaraku melamarku. Oleh karena itu berilah peringatan kepadaku apa kewajiban seorang isteri terhadap suaminya. Kalau kewajiban itu sesuatu yang mampu aku jalankan, maka aku bersedia dinikahkan." Maka Baginda bersabda: "Kalau mengalir darah dan nanah dari kedua lubang hidung suaminya lalu (isteri) menjilatnya, maka itu pun belum dianggap menjalankan kewajibannya terhadap suaminya. Seandainya diperbolehkan untuk manusia bersujud kepada manusia lain, tentu aku perintahkan :seorang isteri bersujud kepada suaminya."
    Berkatalah perempuan itu, "Demi Tuhan yang mengutus Tuan, aku tidak akan menikah selama dunia ini masih ada."
  18. Imam Thabrani menceritakan bahwa seorang isteri tidak dianggap menjalankan kewajibannya terhadap Allah hingga ia menjalankan kewajibannya terhadap suaminya, dan seandainya suami memintanya (untuk digauli) sedang ia (isteri) di atas belakang unta maka tidak boleh dia menolaknya.
  19. Sayidina Ali k.w.j. berkata: "Aku masuk ke rumah Nabi SAW berserta Fatimah lalu aku dapati Baginda sedang menangis tersedu-sedu, kemudian aku berkata: "Tebusan Tuan adalah ayahku dan ibuku wahai Rasulullah, apakah yang membuat Tuan menangis?" Baginda bersabda, "Wahai Ali! Pada malam aku diangkat ke langit aku melihat kaum perempuan dari umatku disiksa di Neraka dengan bermacam-macam siksaan, lalu aku menangis karena begitu berat siksaan mereka yang aku lihat. Aku melihat perempuan yang digantung dengan rambutnya serta mendidih otaknya. Dan aku melihat perempuan yang digantung dengan lidahnya sedangkan air panas dituangkan pada tenggorokannya.
    Dan aku melihat perempuan yang benar-benar diikat kedua-dua kakinya sampai kedua-dua susunya dan diikat kedua-dua tangannya sampai ubun-ubunnya dan Allah mengarahkan ular ular dan kalajengking menyengatinya. Dan aku melihat seorang perempuan yang berkepala babi dan bertubuh keledai dan ia ditimpakan sejuta siksaan. Dan aku melihat seorang perempuan berbentuk anjing dan api masuk dari mulutnya dan keluar dari duburnya (jalan belakang) sementara malaikat memukul kepalanya dengan tongkat besar dari api Neraka
    ." Lalu Sayidatina Fatimah Az Zahra r.ha berdiri dan berkata, "Wahai kekasihku dan cahaya mataku! Perbuatan apa yang dilakukan oleh mereka hingga ditimpa seksaan ini?" Maka Nabi SAW bersabda: "Wahai anakku! Adapun perempuan yang digantung rambutnya itu adalah karena dia tidak menutupi rambutnya dari pandangan kaum laki-laki ajnabi.
    Adapun perempuan yang digantung dengan lidahnya karena dia telah menyakiti suaminya.
    Adapun perempuan yang digantung kedua-dua susunya karena dia telah mempersilahkan (orang lain) untuk menduduki tempat tidur suaminya.
    Adapun perempuan yang diikat kedua-dua kakinya sampai keduadua susunya dan diikat kedua-dua tangannya sampai ke ubun ubunnya dan Allah mengarahkan ular-ular untuk menggigitnya dan kala jengking untuk menyengatinya karena dia tidak mandi junub setelah haid dan dia mempermainkan (meninggalkan) sholat. Adapun perempuan yang berkepala babi dan berbadan keledai karena dia adalah ahli adu domba dan pembohong. Adapun perempuan yang berbentuk anjing dan api masuk ke mulutnya dan keluar dari duburnya karena ia ahli umpat lagi penghasut.
    Wahai anakku! Celaka bagi perempuan yang tidak berbakti kepada suaminya.
    "
  20. Seorang isteri hendaklah menyadari bahwa seorang suami bagi isteri adalah bagaikan ayah bagi seorang anak karena taatnya seorang anak kepada ayahnya dan memohon keredhaannya adalah wajib Seorang suami pula tidak wajib mentaati isteri
  21. Menjadi pendorong serta penasehat dalam hal-hal kebaikan.
  22. Memahami hal-hal yang digemari dan yang dibenci oleh suami.
  23. Setiap perbuatannya hendaklah menyenangkan hati suami.
  24. Senantiasa menambahkan ilmu agamanya serta amalan.amalannya dengan berbagai macam cara seperti membaca, mendengar kaset-kaset ceramah agama serta mengikuti majlis- majlis agama.
  25. Demi cinta terhadap suaminya seorang isteri akan melakukan khidmat dan bakti kepada suaminya cara hal yang sebesar. besarnya sampai hal yang sekecil-kecilnya seperti menggunting kuku, memotong kumis, dan meminyakkan rambut suami. Rasulullah SAW pernah berkata kepada Siti Fatimah: "Ya Fatimah, apabila seorang wanita meminyakkan rambut suaminya dan janggutnya, memotong kumis dan menggunting kukunya maka Allah akan memberinya minum dari air Surga yang mengalir di sungai sungainya dan diringankan Allah baginya sakaratul maul dan akan didapatinya kubumya menjadi sebuah taman yang indah dan taman taman Surga. "
  26. Senantiasa menyediakan air di sisi suami. Selama ia berbuat yang demikian selama itulah ia didoakan keampunan oleh para malaikat.
  27. Memasak makanan menurut kesukaan atau selera suami.
  28. Menambal baju atau pakaiannya yang buruk.
  29. Siapkan barang-barang keperluan di dalam sakunya seperti sisir, celak, sikat gigi. cermin dan minyak wangi (ikut Sunnah).
  30. Ikut kemauan suami pada waktu bersenda gurau, memijat, mengipas dan sebagainya.

Artikel ini adalah bagian dari buku Panduan Wanita Solehah yang berisi panduan-panduan untuk wanita soleh dari Abuya Syeikh Ashaari bin Muhammad At Tamimi

Istri Tidak Ikhlas

Assalamualikum Ustad,,

Saya pernah meminjam uang dari tabungan istri untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami yang memang masih belum genap 1 tahun dikarenakan penghasilan saya yang kurang.

Awalnya istri ikhlas tabungannya dipinjam, namun seiring perjalanan rumah tangga terlebih saat kita konflik dia selalu mengungkit uang pnijaman tsb dan semua pemberian serta pengorbanannya selama ini serta kerap kali menagihnya,walau saya belum punya uang.

Lantas saya harus bagaimana Ustad?
Terima kasih.

Ipar sudah bersuami ikut tinggal di kontrakan

Assalamu'alaikum ustad,

Saya ingin bertanya apa salah jika saya keberatan apabila adik ipar saya ikut tinggal di rumah kontrakan kami yang sempit, padahal adik ipar tersebut sudah bersuami, dia dititipkan sama suaminya untuk tinggal bersama kami karena cek cok dengan mertuanya. Suami minta saya untuk bisa menerimanya, menyediakan semua keperluannya sampai uang jajannya setiap hari, bukankah itu bukan merupakan tanggung jawab suami saya selaku kakaknya? Kondisi saya sekarang sedang hamil dan butuh ketenangan, rasanya risih kalau ada orang lain di rumah kami yang cuma petakan dan tidak ada pintu tertutupnya.

Awal-awal saya bisa menerima, tapi lama-kelamaan saya jenuh, apalagi saya juga bekerja, sementara adik suami tidak bekerja dan hanya diam saja di rumah.

Mohon sarannya,terimakasih

Wassalamu'alaikum

sifat egois dan ketidakpekaan suami berakibat kedinginan istri

Assalamualaikum wr wb ustad.
Rumah tangga kami sudah di ujung tanduk dgn masalah yg tidak pernah terselesaikan. Namun saya masih ingin memperdalam ilmu sebagai seorang istri solehah dan bagaimana cara menjalaninya dalam sudut pandang islam.
Sudah menjadi karakter suami yg saya kenal sejak awal adalah orang yg tidak dapat berlaku lembut dan menunjukan kasih sayang dalam mendidik saya dalam urusan dunia dan seringkali melupakan bbrp ajaran dalam islam karena terbawa faktor didikan (contoh: marah apabila saya tidak ridho mengeluarkan sebagian dari harta warisan saya untuk kepentingan keluarga dan pribadinya sendiri-alasan saya-menjaga untuk masa depan anak2 kelak atau bila terjadi kemalangan). Saya sudah mencoba komunikasi dengan suami dari cara yg paling lembut sampai ke titik saya berlaku khilaf karena terlalu keras menuntut dan melakukan perlawanan. Pada saat saya sadar tdk bisa membuat suami memberikan kebutuhan batin saya, saya membiarkan apa adanya dgn mengisi hari2 saya dengan kesibukan yg positif. Namun lepas dari itu meskipun saya tetap melakukan kewajiban saya sebagai istri seringkali tanpa sadar saya berubah menjadi pribadi yg dingin dan hambar mengakibatkan suami melakukan perselingkuhan. Saat ini kami berdua masih mencoba bertahan dan saling memperbaiki diri. Namun saya kembali tidak mampu merendahkan hati krn sikap suami yg tak kunjung bersikap lebih lembut dan sabar. Saya ingin mengabdi dan menjadi istri yg sholehah. Saya ingin patuh dan diajarkan dgn contoh yg lebih lembut, serta keinginan saya utk belajar lebih dekat dengan ilahi tdk ditanamkan oleh suami sehingga kadang saya jadi ikut terbawa lalai. Haruskah saya bertahan walau itu perang dengan batin saya yg menginginkan suami menjadi imam dunia akhirat? Dalam islam apa yg harus saya lakukan? Bagaimana saya bs tetap menjadi wanita seutuhnya buat suami... Saya sangat takut suami kembali melakukan perselingkuhan atas ketidakmampuan saya ini.

kebimbangan

Assalamualaikm..
Ust. Sya ingin bercerita sedikit dan mhon sarannya.
Begini pada dsarnya kluarga sya ortu itu kurang cocok sdahlama bahkan sempat ada kata talak namun sdah pernah rujuk. Kami semua terkadang mersa mengapa kami jarang sekali kompak syapun bngung sebagai anak (usia 24th). Sbnarny sya itu syang sekali dg keluarga sya tp sya tdak suka dg karakter ibu yg keras kasar sekali dlm berkata2 seolah2 kadang terkesan menekan rasanya, ego dan sbgainya. Shingga trkdang sy itu bngung hrs bagaimana sering cekcok (sya sering debat smw mslah tp hal itu sbnarnya menakutkan sy akan dosa).sy sering berfkir jika sudah bersuami sy akan ikut suami namun sya mengingnkn imam yg baik dan mengerti akan syariat islam. Dan sya sdah menikah 3bulan suami kerja d luar kota, sya msih di desa jg bekerja. Suami pulg satu minggu sekali, yg sya keluhkan suami sya itu dr latarbelakang yg kurang pham dg syariat islam bahkan bapk mertua tidak pernah sholat. Itu pahit sekali bagi sya karena berbeda jauh dg latarbelakang klwargabesar sya ustad. Selain itu jg suami sy dlu pernah jadi preman namun setahun sblm kenal sya sdah berkeinginan bertaubat dan katanya bersedia jika sya bimbing dan belajar bersama..namun pda kenyataanya susah sekali ustad. Yg mau jika pulag sya ajak untuk berjamaah d masjid sja, tp yg lain sperti mengaji bareng dan ikut majlis2 gitu tdak mau dan slalu alasan capek butuh istrahat. Sdangkan suami ingin sya ikut pndah k surbaya tmpatnya bekerja. Kadang jika sy cekcok dg ortu sya ingin ikut suami tp mengapa sya slalu tidak tega meninggalkan ortu dg alasan kerjaan ortu sya tiu membtuhkan tenaga bnyak sya hrs bantu.
Yang jadi kebimbangan sy jg jika sy nanti ikut suami kesurbaya sya takut malah susah seperti mencari ilmu agama karna suami yg sperti itu.
Maaf kalo tulisan sya acak-acakan mohon bantuannya ustad??

mohon bimbingan

Assalamualikum wr wb Ustad,
Tahun 2011 saya menceraiakn istri pertama saya karena dia selingkuh/zina dengan lelaki, anak saya (lelaki 14 th) ikut ibunya, yg menjadi saya sedih adalah anak saya seakan membenci saya dan sepertinya hanya butuh saya jika ada perlunya saja (minta uang bulanan)sepertinya dipengaruhi ibunya/dan bekas mertua untuk membenci saya, padahal jelas2 ibunya lah yg berbuat salah/zina,
yang saya tanyakan adalah...
1.sebatas manakah bakti anak kepada ibunya yg sudah menghianati keutuhan keluarga, apakah jika kelakuan yg seperti itu surga masih dibawah telapak kaki ibu ???
2.sebatas mana anak harus berbakti kepada ayah ?? dalam hukum islam...krn sepertinya peran ayah tidak berarti apa2 jika dibanding seorang ibu.
terus terang saya sangat mencintai anak saya tetapi terampas oleh ibu dan kelaurganya...

wasaalam

1. Anak tersebut mungkin

1. Anak tersebut mungkin belum paham, jadi yang dianggapnya yang salah adalah pihak ayah, bukan pihak ibu.
2. Ketika ditanyakan ke Rasulullah SAW, seorang anak itu mengutamakan ibunya 3x, baru kemudian ayahnya.

bertengkar gara-gara tempat tinggal

Assalamu'alaikum..
saya perempuan berusia 23th, sdah menikah 3th & memiliki putri berusia 1th..
dulu awal pernikahan saya sempat ikut dg mertua selama lbih krang 5bln, tp sya tdak suka dg sikap mertua sya krna apapun yg sya kerjakan selalu tidak benar dan dikomentari. kalau sya tdak mmbantu d dapur mrtua prempuan sya slalu membanting perkakas dapur dan sya pernah dikatai 'tidak punya akal' oleh mertua lelaki sya smpai akhirnya sya tdak tahan & menceritakan semua kpada ibu sya (sblumnya ibu tdak tahu masalah sya). akhirnya gara2 itu ibu saya membuatkan sya usaha kecil2an d rumah agar sya tdak tinggal dg mertua sya lg. masalahnya skarang suami saya mengajak saya untuk membuat rumah tepat d depan rmah mrtua sya, sya jelas2 menolak dg alasan sya pernah d sakiti (sebelumnya sya tdak prnah menceritakan perlakuan org tuanya terhadap saya), dn yg membuat sya tdak krasan lg krna daerah tmpat mrtua sya tinggal jauh dr kota, sekolah jga jauh sya takut akan masa depan pendidikan putri saya, tp suami sya ttap bersikeras membuat rumah dsana smpai2 kita bertengkar tiap malam.. alasan suami ingin tinggal dekat ortunya krna mslah pkerjaan, krna sya trus menolak suami sya sampai bilang kalu sya enak2an d rumah tdak merasakan ssahnya dia bekarja, sya mrasa sakit mendengar ucapannya dan enggan mnerima uang belanja dri suami.. sya jga tdak suka dg adik prempuan suami yg suka mengatur & sya juga tdak rela kalau putri sya dekat dg keluarga suami sya.. bukannya saya ini pendendam, tp ibarat luka perlakuan mertua trhadap sya itu masih membekas.. mohon bantuannya apa yg harus saya lakukan???? terimakasih

Jawaban bertengkar gara-gara tempat tinggal

Wa alaikum salam

  1. Hubungan menantu dengan mertua memang khusus, karena bisa dibilang ini adalah hubungan 'anak ketemu gede'. Kemungkinan banyak perbedaan antara mertua dan menantu. Penyelesaiannya perlu kerjasama dengan suami anda. Anda belum menyebutkan apa tindakan suami terhadap ketegangan yang terjadi antara anda dan mertua anda, padahal hal ini penting.
  2. Seorang laki-laki punya kewajiban terhadap orang tuanya, jadi sebenarnya keinginan suami untuk tinggal dekat orang tuanya perlu dihargai. Setidaknya suami anda adalah orang yang berbakti pada orang tuanya.
  3. Seorang istri wajib taat pada suaminya, termasuk jika suaminya ingin istrinya pindah ke tempat tertentu. Jika istri menentang keinginan suami tanpa alasan yang sesuai syariat, hal ini dapat termasuk 'istri durhaka'. (istri yang dianggap durhaka kepada suami).
  4. Dalam tulisan anda kurang jelas apakah anda saat ini tinggal dengan suami atau tinggal dengan orang tua anda. Perlu anda pahami bahwa bagi seorang laki-laki, tinggal jauh dari istri itu 'cukup susah'.
  5. Pendidikan anak anda sebagian besar tergantung kepada didikan orang tuanya, bukan semata-mata perkara anak anda sekolah di mana. Jadi jangan terlalu kuatir dengan sekolah yang jauh, ini masih dapat diselesaikan dengan kendaraan.

Istri lebih mementingkan keluarganya

assallamuallaikum wr wb,

ustadz, saya mau tanya..

saya sudah menikah 1thn lebih,sebelumnya saya tinggal di jkt,tetapi istri saya minta saya pindah ke kotanya dengan alasan membantu usaha keluarganya, dgn berat hati saya jg harus meninggalkan pekerjaan saya di jkt. 2 bln saya dikotanya saya sudah tidak kerasaan,karna sudah banyak campur tangan keluarga istri saya ( kakak2nya ). saya sudah minta sama istri saya untuk pindah dr kotanya dan hidup pisah dari keluarganya, tetapi istri saya slalu beralasan berat untuk meninggalkan kakaknya, karna takut usahanya tidak ada yg bantu.keluarga istri saya memiliki usaha losmen dan restoran, tetapi yg membuat saya berat adalah baik di losmen dan di restoran menyajikan minuman berakhohol ( bir & arak ) saya bersikeras meminta istri saya untuk pindah dr kotanya,agar kami bisa hidup mandiri dan tidak ada campur tangan keluarganya. tp istri saya selalu menolaknya dgn alasan yang sama. ketika saya mengutarakan niatan saya untuk membawa istri saya keluar dari usaha itu sama kakak2nya, mulai lah dari situ timbul fitnah terhadap diri saya.
hingga timbullah adu domba terhadap saya dan istri saya, intinya keluarga istri saya tidak mau kalau adiknya ( istri saya ) pergi meninggalkan usaha keluarganya.akhirnya terjadilah cekcok antara saya dan kakaknya, demi menenangkan ketegangan akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke jkt,tetapi ketika saya ajak istri saya untuk ikut dia menolak dan dilarang oleh keluarganya.dia lebih memilih keluarganya,dan istri saya bilang sama saya untuk "tunggu keputusan keluarga bagaimana kedepannya rumah tangga kami nanti".
dengan keadaan rumah tangga kami yg seperti ini, apa yg harus saya lakukan pak ustatd? apakah saya berdosa karna tidak bisa mendidik istri saya? padahal sebelum saya pergi, saya sempat mengajari istri saya mengaji.

mohon pencerahannya pak ustatd.

wassallamuallaikum wr wb

Jawaban Istri lebih mementingkan keluarganya

Wa alaikum salam wr wb,

  1. Memperdagangkan minuman keras seperti bir dan arak dalam Islam hukumnya adalah haram. Jadi secara syariat memang ada alasan untuk tidak terlibat dalam perdagangan minuman keras.
  2. Jika istri menolak perintah suami tanpa alasan yang sesuai syariat sah maka hal ini dapat digolongkan kepada nusyuz (istri durhaka, detailnya di artikel istri-yang dianggap durhaka kepada suami).

    Untuk istri yang durhaka/nusyuz, ada panduannya ringkasnya dalam Al Qur'an, surat An-Nisaa’: 34: "... Wanita-wanita yang kamu khawatirkan berbuat nusyuz, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya". http://www.kawansejati.org/alquran-digital/s004a034.htm

    Seorang istri dapat taat pada suami hanyalah jika sudah dididik dengan baik, dikenalkan dengan Allah dan syariatnya. Suaminya juga mesti lebih dahulu menjadi contoh bagi istrinya, dengan taat 100% kepada segala perintah Allah. Jika suami tidak dekat dengan Allah, dan kemudian tidak dapat mendidik istrinya, maka susah istri dapat taat dengan suami.

  3. Ketaatan istri yang utama adalah pada suaminya, bukan kepada keluarganya selama perintah dari suami tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Jika suami minta istri pindah ke tempat tertentu, maka istri wajib mengikuti permintaan tersebut selama hal itu tidak melanggar syariat Islam.
  4. Anda sebut tentang 'mengajari istri mengaji', cuma tidak jelas apa yang anda maksud dengan 'mengaji'. Mendidik istri adalah kewajiban seorang suami. Hal yang perlu diajarkan dari suami ke istri meliputi: perkara aqidah, perkara fardhu 'ain / syariat, perkara akhlak/adab, dan khususnya hal-hal mengenai rumah tangga, seperti diringkas di buku Panduan Wanita Solehah. Jadi cukup banyak yang mesti anda perlu pastikan sudah dipahami dan diamalkan oleh istri anda. Jika anda belum mendidik istri dengan lengkap, dan istri melakukan kesalahan, maka adosa ada pada suami. Jika sudah anda ajari tapi istri masih membangkang, maka itu bukan dosa anda.

Wassalam.

assalamualaikum ustad...sy

assalamualaikum ustad...
sy mau tanya :
1. sy sudah menikah 7th & smp skgpun blum pernah dijatah uang tiap sebln sekali & cm disuruh ambil uang belanja tiaphr dr tmpt usaha suami,itupun jg max 15rb.tubuh suami&karyawan di usaha suami besar2& makannyapun byk2 + saya & anak yg msh batita,otomatis 15rb tdk cukup utk mkn 3xsehr apalg tggl d jkt. &bahkan suami marah kl sy ambil lbh dr 15rb,pdhl suami sdr perokok,peminum&foya2 alkohol tiap mlm dgn teman2ny bs hbs 50-100rb/hr. apakah itu disebut menafkahi istri bila cm diberi mkn sj?

Jawaban masalah uang belanja

Wa alaikum salam

Dari tulisan anda tersebut saya tuliskan lagi masalah-masalah yang anda hadapi, dari yang paling berat sampai yang paling ringan sebagai berikut:

  1. Suami minum minuman keras / alkohol. Perbuatan ini adalah dosa yang cukup berat
  2. Suami merokok. Sebagian ulama menyatakan merokok itu haram, sebagian lagi menyatakan merokok itu makruh.
  3. Suami foya-foya.
  4. Suami tidak memberikan uang belanja yang cukup.

Menurut saya permasalahan anda  yang paling berat dalam pandangan agama Islam bukan di urusan uang belanja, namun suami yang minum-minum, merokok dan foya-foya.

Berdoalah agar permasalahan (1,2,3) bisa hilang, karena kalau (1,2,3) beres maka insya Allah permasalahan uang belanja lebih mudah beres.

bapak mertua yg keras

Assalamualaikum pak ustad.
Saya mau minta pendapat.
Saya skrg tinggal serumah dengan prang tua suami saya, dan sekaligus bekerja sebagai karyawannya.
Dirumah juga tidak ada pembtu, jikapun ada pembantu paling hanya bertahan 1 - 2 bulan. Saya kasihan dengan ibu mertua saya yg mengerjakan semuanya sendiri. Saya pun kadang2 bantu jika tidak ada pekerjaan di kantor.
Tp skrg saya malah disalahkan krn jarang membantu ibu mertua saya, padahal saya jngin sekali membantu tapi bentrok dengan urusan kantor yg bapak mertua saya berikan.
Dianggap pekerjaan saya tidak becus. Padahal awalnya dia selalu memuji pekerjaan saya.
Dan anaknya sendir ( suami saya ) juga tidak mendapat gaji bulanan. Hanya saya saja yg digaji, dengan alasan tempat tinggal gratis, makan pun gratis. Jadi papanya hanya menggaji saya dan menyurh saya ikhlas jika suami saya minta uang rokok atau keperluan lainnya kepada saya. Saya sih nurut dan ikhlas aja. pada saat bapaknya bilang saya kerja tidak becus, dia bicara lain lagi, dia bilang kalau tidak baik jika dalam rumah tangga, istri yg bekerja. lebih baik suami saya saja yg digaji, krm saya kerja tidak becus, kepercetakan saja harus sama suami"
Ya bagaimana saya tidak minta temenin suami pak ustad, karna kan ke percetakan harus angkat buku, ambil buku yg sudah di cetak.
Kebetulan mertua saya editor buku.
Saya minta petunjuknya pas ustad, apakah saya mengundurkan diri saja dan kita tinggal terpisah dr orang tuanya atau tetap sabar disini?
Tp sejujurnya saya sudah tidak tahan dengan perlakuan papa mertua saya kepada anaknya dan menantunya. Dan bukan hanya saya saja yg diikutcampuri rumah tangganya, kakak2 suami saya juga. Sampai2 papa mertua saya menjadi perantara perceraian kakak suami saya. Karna dia terlilit utang, dan ada laki2 yg mau menebus utangnya, sehingga mertua saya merestui hubungan kakak suami saya dengan laki2 itu. Dan memaksa suaminya segera menceraikan kakak ipar saya.
Masih banyak kelakuan2 aneh yg dilakukak mertua saya, padahal dia org yg cukup terkenal dengan buku2nya.
Maaf jika terlalu panjang pak ustad, saya harap pak ustad dpt memberikan petunjuk.
Terimakasih.
Wasalam

Jawaban bapak mertua yg keras

Wa alaikum salam,

Sebagai istri, kewajiban anda setelah fardhu 'ain adalah ikut arahan dari suami. Jadi dalam hal ini sebenarnya sangat tergantung apa yang ingin dilakukan oleh suami anda.

Kewajiban suami anda adalah menjaga anak dan istrinya (anda) dari api neraka, artinya suami perlu melakukan penjagaan dan pendidikan terhadap anak dan istrinya. Kalau menimbang dari apa yang anda kemukakan, nampaknya suasananya kurang sehat. Namun demikian silakan suami anda yang menilai apakah mau tetap tinggal bersama mertua atau mau hidup terpisah dari mertua.

Wassalam

suami pindah agama

Assalamualaikum wr.wb
Ustadz suami saya mualaf.. tapi setelah menikahi saya dia minta untuk pindah ke agamanya lagi..
Suami sy juga mengajak sy untuk pindah ke agamanya..
Atau sy tetap muslim dan dy pindah agama..
Apa yg harus sy lakukan ustadz?

Jawaban suami pindah agama

Wa alaikum salam wr wb,

Pindah agama dalam Islam disebut sebagai murtad.
Syarat pernikahan adalah suami dan istri beragama Islam. Jika salah satu keluar dari agama Islam, maka pernikahan tersebut menjadi batal (fasakh), sehingga hubungan pernikahan antara anda dengan suami anda menjadi terputus.

Artinya anda mesti memperlakukannya seperti memperlakukan laki-laki lain. Hubungan suami istri sudah tidak boleh dilakukan. Hubungan waris, hak & kewajiban suami istri juga sudah tidak ada.

Saran saya:

  • Pastikan apakah dia masih mau beragama Islam atau benar-benar mau pindah agama.
  • Jika dia benar-benar pindah agama, maka pernikahan anda secara syariat Islam sudah terputus (bercerai).
  • Berkonsultasilah dengan wali anda (ayah) jika masih ada.
  • Berkonsultasilah dengan KUA setempat untuk mengurus status legal anda.
  • Tetaplah tabah dalam menghadapi ujian ini. Insya Allah akan ada pengganti yang lebih baik untuk anda.

Referensi:

Mohon pencerahannya pak ustadz

Pak, saya seorang istri yang bekerja. Suami saya juga bekerja. Gaji suami saya stiap awal bulan sudah dibagi-bagi untuk cicilan ini itu sehingga pada tengah bulan sudah sekarat. Karena itulah saya juga memberikan gaji saya untuk keperluan keluarga. Namun saya sering memberikan masukan kepada suami agar salah satu cicilannya di cut (dengan cara dijual hartanya) agar keuangan tidak seseret sekarang kalau tengah-akhir bulan. Namun suami masih keberatan untuk hal itu.
Kan kewajiban suami itu menafkahi. Kalau gajinya sebagian lebih untuk cicilan akhirnya kan nafkahnya kurang. Apalagi kalau keluarga suami minta uang untuk keperluan mereka (mertua dan adik ipar), kalau sudah tidak ada uang lagi, akhirnya minta kepada saya. Bukankah itu bukan kewajiban istri? (ataukah jika suami minta, istri wajib ngasih?)
Bagaimana menurut pak ustadz?
Terimakasih jawabannya.

Jawaban masalah istri bekerja

Yth Ibu Ina,

Dalam syariat Islam kewajiban menafkahi keluarga ada pada suami, istri tidak wajib menafkahi keluarga.

Kalau ibu bekerja, kemudian ibu redho penghasilan ibu dipakai untuk keperluan keluarga juga itu baik.

tapi pak, kalau untuk

tapi pak, kalau untuk memenuhi kebutuhan keluarga suami itu kan tidak sama dengan 'kebutuhan keluarga' yg pak ustadz maksud kan? kebutuhan keluarga itu bukannya kebutuhan saya dan suami? kalau kebutuhan keluarga suami tentu tidak masuk kriteria bukan?

Jawaban Kebutuhan Keluarga

Seorang suami punya tanggung jawab memberi nafkah terhadap keluarganya, terutama yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokoknya. Jadi yang termasuk ini antara lain:

  • orang tuanya
  • saudara laki-laki yang miskin walaupun sudah berusaha keras
  • saudara perempuan yang belum menikah / tidak bekerja
  • istri
  • anak-anak

Seberapa yang dibagi ke pihak-pihak tersebut tergantung pandai-pandai sang suami. Suami ini mesti sanggup menilai mana keperluan yang benar-benar penting dan mana yang tidak terlalu penting.

Penghasilan istri itu hak dirinya sendiri, jadi terserah mau dipakai untuk apa saja.

Bertengkar gara-gara Ibu mertua

Bertengkar gara-gara Ibu mertua

Assalamualaikum ustadz,,

Saya menikah baru 4 bulan, alhamdulilah istri sudah mengandung 1 bulanan.
Kami tinggal sendiri ngontrak dikota lain pisah degn ortu dan masing-masing
kami sudah bekerja. Sebulan yang lalu saat kami pulang kampung kerumah ortu
saya, istri sempat cekcok kecil dengan ibu saya karena ibu terlalu
mencampuri urusan pekerjaan istri. Sejak saat itu dia (istri saya) sangat membenci ibu saya terlebih saat saya dianggapnya lebih membela ibu saya, padahal saya berusaha bersikap netral dan tidak mau dianggap menentang Ibu takut durhaka.

Sampai sekarang dia sllu mengungkit2 masalah tersebut dan setiap kali saya nasehatin dengan lembut sellu emosi, tidak terima dan mengancam pisah dari saya. Berkali kali saya minta maaf dan berusaha meluluhkan hatinya tapi besok dan besoknya lagi sellu dibahas bahkan mengungkit2 masalah lain seperti keuangan keluarga,gaji saya yg tidak cukup dsb, dan cendrung mengolok-ngolok ibu saya dan saya sendiri dianggap tidak pantas jadi kepala
rumah tangga dan ujung-ujungnya minta pisah.

Saya harus bagaimana Ustadz? apalagi istri saya sudah kebal nasehat saya dan seakan-akan tertutup hatinya dan sangat membenci saya dan Ibu saya.

Jawaban Bertengkar gara-gara Ibu mertua

Dalam menempuh hidup baru, pasangan suami istri yang masih baru pasti banyak hal-hal yang harus disesuaikan. Mungkin ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan perkiraan sebelum menikah, dalam hal ini istri belum dapat menerima keadaan mertuanya.

Antara suami dan istri pun yang baru menikah, mungkin juga ada beberapa hal yang masih perlu penyesuaian.

Ditambah lagi dengan kondisi istri yang baru hamil, kadang-kadang kehamilan ini dapat mempengaruhi kondisi batin seorang istri.

Saran saya:
- Tanggung jawab suami adalah mendidik istrinya. Mendidik dapat dengan kata-kata, namun biasanya lebih efektif dengan perbuatan tanpa banyak berkata-kata
- Bersabarlah, tunjukkan saja kasih sayang anda kepada istri. Moga-moga nanti hati istri dapat luluh juga.
- Banyak mendoakan istri
- Perbaiki ibadah anda. Shalat di awal waktu.

Ijin Suami

Assalamu 'alaikum wr wb.
Pak ustadz mohon bimbingannya.

1. Ada kejadian istri sy menerima tamu teman masa SD, laki & perempuan pd jam 21 s/d 24.00 utk rapat reuni tanpa izin suami yg waktu itu ada dirumah. Memang saat itu kami berada di rumah kk ipar (mertua tinggal serumah dgn kk ipar itu) saat berlebaran.

Sy merasa tidak suka dgn hal itu. Apakah cukup alasan istri sy tidak minta izin karena terlajur lihat roman muka sy yg marah, dan tidak perlu bubar pada jam yang pantas karena sudah tidak ada waktu lagi untuk persiapan reuni.

2. Kejadian lain, istri membandingkan kalo sy sebagai suami tidak izin dan tidak perhatian dgn perasaannya istri (tidak suka) saat sy terima tamu pria dirumah sendiri (dalam urusan bisnis) misal dari jam 22.00 s/d jam 02.00.

Teman sy sudah saya izinkan bertamu dengan sy sampai urusan selesai.
Sedangkan istri saya tetap tidak terima begitu apalagi tidak minta izin dia.

3. Terakhir pak.
Malam hari jam 23.00 saya masuk kamar sudah gairah. Istri malah asik chating dengan teman-temannya. SAmpai pada akhir teman (pria) chat itu telephon, diterima istri saya tanpa izin lebih dulu. Sepontan sy marah dengan cara pindah tidur.

Ternyata detil sebabnya itu, istri saya telah telepon konfrensi bersama-sama 4 orang (1 pria). Ada seorang ibu yg anaknya semacam kesurupan dan ada paramedis.

Saya maklumi bila begitu kejadiannya.
Tapi sebelum dijelaskan, pagi hari sy pasang setatus FB tanpa menyebut nama, mencaci dgn dengan sebutanan (maaf) "semprul" dan "kayak binatang" gak tau sopan.

Maaf saya cerita agak detil pak ustadz, dengan maksud dapat nasihat untuk saya dan istri saya secara jelas bpk melihatnya.

Wassalam ...

Jawaban Tentang Izin suami

Kalau dari sisi syariatnya
- memang seharusnya istri minta izin dulu jika ada urusan dengan pria lain
- hasrat suami wajib didahulukan di atas kepentingan lain.

Coba istri diajak bicara baik-baik, apakah dia sudah paham tentang kewajiban-kewajibannya sebagai istri.

Seharusnya suami & istri yang menikah sudah paham hak & kewajiban masing-masing, jadi ketika timbul masalah mudah saja merujuk kepada aturan yang ada. Namun di zaman sekarang ini kebanyakan tidak paham, sehingga masalah-masalah tidak diselesaikan menurut aturan Islam. Mengubah keadaan ini tentu memerlukan kesabaran ekstra. Banyak-banyaklah bersabar, insya Allah kesabaran anda akan diberi ganjaran yang sesuai.

suami yang tdk bahagia

assalamualakum ustadz...saya mo tanya tentang seorang istri yang cuek pada suami,hingga suaminya tidak merasa bahagia..!!,,,bagaimana cara mengatasi maslahnya..??...trimaksih

Jawaban suami yang tdk bahagia

Perhatian istri kepada suaminya secara garis besar dapat karena dua hal:
- karena faktor dunia, misalkan karena fisik suaminya, harta, kedudukan, dan sebagainya
- karena faktor akhirat, yaitu istri yang melayani suaminya sebagai bentuk ibadah kepada Allah, dan karena ingin melaksanakan teladan dari Rasulullah.

Perhatian karena faktor dunia mudah berubah, karena fisik suami berubah, ataupun karena masalah kebosanan. Perhatian karena faktor akhirat lebih kuat bertahan.

Jadikanlah kehidupan berkeluarga atas dasar akhirat, supaya kasih sayang suami istri akan kekal sampai nanti di akhirat, bukan hanya sementara.

urusan suami

Assalamu'alaikum.. saya mau tanya apakah seorang istri boleh mengetahui urusan suaminya?? sedangkan suaminya tidak ingin memberitahunya
tolong sertakan dalil atau hadist
syukron

Istri ingin tahu urusan suami

Wa alaikum salam

Dalam suatu keluarga, suami adalah pemimpin, sedangkan anak dan istri adalah pengikut. Di akhirat seorang suami akan ditanya apa yang sudah dilakukannya untuk memimpin anak istrinya, sedangkan sang istri hanya akan ditanya apakah dia taat pada suaminya atau tidak. Dalam konteks ayat ini, suami perlu tahu urusan-urusan istri yang menentukan urusan akhirat sang istri, sedangkan istri tidak perlu mengetahui urusan suami.

Jika suami ingin membagi urusannya dengan sang istri, boleh-boleh saja, namun jika suaminya tidak ingin istrinya tahu, sang istri sebaiknya tidak memaksa untuk tahu.

Referensi:
#1 At Tahriim:6:
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka"
http://www.kawansejati.org/alquran-digital/s066a006.htm

#2 An Nisaa:34
" Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita),"
http://www.kawansejati.org/alquran-digital/s004a034.htm

calon suami mengajak tinggal bersebelahan dengan orang tuanya

assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh, saya mau tanya pak ustad, saya mempunyai seorang calon suami, calon suami saya menginginkan bila setelah menikah nanti kami tinggal besebelahan rumah dwngan orang tuanya, tapi saya tidak setuju dengan alasan mencegah terjadinya cekcok dengan mertua, saya ingin kami tinggal dirumah yang masih didaerah yg sama tp bukan bersebelahan dengan mertua, dan saya sangat membebaskan dia untuk berbakti pada orang tuanya, tp dia tetap berkeras ingin tinggal bersebelahan dengan orang tuanya, apa yg harus saya lakukan pak ustad??

Tinggal dekat mertua

Wa alaikum salam.

Alhamdulillah anda sudah mempunyai seorang calon suami. Untuk masalah ini perlu diperhatikan beberapa hal:
- Seorang istri wajib taat pada perintah suaminya. Jika suami ingin tinggal di suatu tempat tertentu, istri dapat memberi pendapat, namun tetap pada akhirnya suami yang mengambil keputusan. Hal-hal positif maupun negatif dari keputusan suami tersebut menjadi tanggung jawab bagi suami di dunia maupun di akhirat. Jadi istri tidak perlu kuatir karena istri tidak akan ditanya di akhirat tentang akibat dari keputusan tersebut.
- Seorang laki-laki ada kewajiban untuk mengurus orang tuanya. Jadi dapat diambil positifnya, suami anda tidak akan repot menunaikan kewajibannya terhadap orang tuanya. Insya Allah hal ini akan meringankan beban suami nanti di akhirat.
- Pada saat ini anda statusnya kan belum menikah, jadi nampaknya terlalu awal untuk kuatir cekcok dengan mertua. Bertawakal lah dengan Allah, moga-moga nanti anda dapat rukun dengan mertua, mungkin justru malah bisa jadi menantu yang disayangi mertua.

Sebelum menikah, perhatikan juga hal-hal syariat antara anda dengan calon suami. Selama belum menikah, banyak hal-hal yang dapat menjadi dosa dan mengurangi keberkatan pada keluarga anda nanti, misalnya:
- Bahaya pandang memandang antara laki-laki dan perempuan: http://www.kawansejati.org/101-bahaya-pandang-memandang
- Berduaan dengan calon suami tanpa ditemani mahrom: http://www.kawansejati.org/103-adab-adab-wanita-yang-dipinang
- Menutup aurat
- Membatasi percakapan antara laki-laki dan perempuan
- dan lain sebagainya

salahkah pindah rumah kalu org tua sakit

Assalamu'alaikum.
saya sudah menikah hampir 3 tahun dan sudah di karunia 1 anak. saya sekarang tinggal satu pagar dg orang tua. dari awal menikah, kami berencana untuk pindah rumah, tapi orang tua saya melarang.lalu bulan Juli 2013, kami ingin pindah rumah dan suami saya sudah mengutarakan niatnya ke orang tua, tp lagi lagi orang tua melarang dengan beribu alasan. salah satunya ayah saya sakit.
padahal kami pindah bukan keluar kota. dan kami sudah menjelaskan ke orang tua tapi mereka tetap melarang.
suami saya sudah tidak tahan tinggal di rumah sekarang karena terlalu banyak larangan2, seperti kalau kami hendak keluar rumah harus ijin dulu dan pulang harus cepat dan masih banyak pertanyaan2 yang muncul kepada kami (terlalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya)

yang saya tanyakan :
1. apakah salah dan berdosa kepada orang tua kalau saya mengikuti kemauan suami untuk pindah rumah dengan kondisi ayah saya sakit (struk)?

2. apakah tangisan orang tua ada pengaruh dalam rumah tangga kami seperti bak kata orang tentang cerita malin kundang.

3. karena terlalu banyak ikut campur dan merendahkan suami saya, sehingga membuat saya membenci mereka, apakah salah dengan sikap saya seperti itu?

demikian, mohon di bantu bagaimana sikap saya yang seharusnya karna saya tidak tahu mau berbuat apa lagi....

terima kasih jawabannya.

Ketaatan istri kepada

  1. Ketaatan istri kepada suaminya lebih tinggi derajatnya dibandingkan ketaatannya kepada orang tuanya. Jadi dalam hal ini patuhilah apa keinginan suami.
  2. Cerita Malin Kundang tidak dapat dijadikan acuan dalam agama Islam. Insya Allah jika istri taat dan melayani suaminya, semuanya akan baik-baik saja.
  3. Bersabarlah dengan orang tua anda.

Kita inginnya menyenangkan semua orang (orang tua, suami, mertua, dsb), namun anda perlu menentukan prioritas. Saran saya bereskan dulu urusan anda dengan suami, baru kemudian bereskan yang lainnya.

Assalamu'alaikum wr wb

Ust, saya sudah berpacaran 9 bulan,sblumnya saya berpcaran slama 8 thn,saya tdk ingin hbngan ini gagal.dan saya sudah ingin segera menikah,namun pria yang bersama saya ini,sprtinya blm mmliki niat utk menikah.saya smpat brfkir untk mngakhiri,tapi saya msih syg.tpi sya takut khilangan kndali, dan tkut jika hal2 yang tdk diinginkan trjdi.bagaimana solusi yang hrus sya tempuh ust.sebab sebagian sisi,saya tetap ingin brsamanya,namun ingin mnjdi yang halal,tp d sisi lain,pria ini sprti blum tergerak utk segera mnikah.mohon penceraahannya ust,trmkh

Pacaran dalam agama Islam

Pacaran dalam agama Islam adalah tidak dibenarkan. Jika memang pria itu tidak ingin menikahi anda, segera tinggalkan dia. Carilah laki-laki yang memang ingin menikah, bukan yang ingin sekedar pacaran. Anda dapat minta bantuan orangtua/saudara anda untuk dicarikan calon pasangan yang serius.

suami merasa tak bahagia

Assalam, pak saya telah menikah 5 bulan kondisi saya skr sdg hamil, dan saya telah ditalak suami saya via sms krn dia merasa tidak bahagia dg saya, ini jg kesalahan saya, saya berbohong untuk menutupi aib masa lalu saya.klrg skr mengurus perceraian dg cara saya yang mengugat cerai, pdhl sayamasih mencintainya tapi saya tidak mau berlaku zalim pada suami saya kalau dia tidak bahagia. Selama kami menikah suami belum pernah memberikan nafkah lahir tapi saya ridha pak krn saya telah bekerja, skr mertua dan suami saya secara tersirat menyuruh mengugurkan kandungan ... apa yang harus saya lakukan pak.. mohon pencerahan.. makasih pak
*saya dan suami kerja beda kota*

Saran untuk keluarga bahagia

Wa alaikum salam

Anda dan suami sama-sama bekerja berbeda kota, kedua hal ini dapat saja mempengaruhi hubungan anda dengan suami.

Idealnya anda tinggal serumah dengan suami anda, dan untuk bekerja anda minta izin dulu dengan suami anda. Jika suami tidak mengizinkan anda bekerja, anda turuti suami anda.

Biar bagaimanapun, suami akan lebih bahagia jika:
- istrinya ada di rumah
- istrinya ikut apa kata suami.
- istrinya sibuk melayani apa saja keperluan suami.

5 bulan sebenarnya waktu yang sangat singkat bagi suami & istri untuk dapat saling menyesuaikan diri. Dengan anda tinggal beda kota, hal ini tambah susah. Anda juga bekerja, otomatis perhatian kepada suami tidak 100%.

Saran saya:
- jika keadaan keluarga masih bisa diperbaiki, cobalah ikut apa saja kata suami.
- jangan menggugurkan kandungan anda, karena itu adalah perbuatan haram.

Masalah Dengan Bapak Mertua Istri

Assalamu'alaikum Wr. Wb Pak Ustadz....
Saya Mau Mengajak Istri Saya Untuk Tinggal Di Rumah Orang Tua Saya, Tetapi Bapak Mertua Saya Tidak Mau Kalau Saya Sama Istri Saya Tinggal Dirumah Orang Tua Saya. Sedangkan Orang Tua Saya Cuma Tinggal Berdua Saja dan Sudah Tua... Bagaimana Caranya Saya Agar Bisa Meluluhkan Hati Bapak Mertua Saya Agar Mau Mengizinkan Saya dan Istri Saya Pindah Pak Ustadz...

Dekatkan diri dengan Allah,

  • Dekatkan diri dengan Allah, banyak bertaubat.
  • banyak berselawat.
  • Perbanyak ibadah malam, kalau dalam bulan Ramadhan tentunya ada kesempatan melakukan shalat tarawih.
  • Perbanyak sedekah

Mohon Di Berikan Penjelasan

Assalamu'alaikum Wr. Wr Pak Ustadz..
Saya Mau Tanya Pak Ustadz, tentang Bapak Mertua Saya Tidak Mau Kalau Anaknya Saya Ajak Pindah Ke Rumah Orang Tua Saya. Sedangkan Orang Tua Saya Cuma Tinggal Berdua Saja dan Sudah Tua......

Tinggal bersama orang tua

Anda sebagai suami berhak mengajak istri untuk tinggal di manapun yang anda suka, apalagi kalau kepindahan anda ini ada kaitan dengan menjalankan syariat tertentu.

Bagi anda sebagai anak laki-laki, dari sisi syariat ada kewajiban untuk mengurus orangtua anda, sedangkan istri anda wajib ikut perintah anda, jadi sebenarnya kalau istri mau dibawa ke manapun boleh-boleh saja.

Namun demikian kalau ada kekuatiran dari pihak mertua anda, tentu saja hal ini perlu dijaga juga, walaupun tidak sampai wajib bagi anda, namun ini merupakan akhlak mulia yang insya Allah akan dinilai nanti di akhirat.

orang tua melarang

assalamu alaikum wr. wb

pak ustad saya mau bertanya... saya sudah menikah selama 6 bulan dan saya ada permasalahan dengan orang tua saya yang selalu ikut campur masalah rumah tangga saya. ortu saya selalu mempermasalahkan pekerjaan suami yang berdagang sedangkan saya pegawai. ortu tidak rdho jika saya membantu suami dalam berdagang atau menafkahkan uang saya untuk keperluan rumaah tangga. bahkan saya tidak diizinkan untuk mengambil KPR rumah atas nama saya karena nanti dipakai bersama suami. saya kadang miris dengan kondisi ini. saya banyak membantu ortu karena kondisi mereka yang kekurangan, kadang saya bilang kepada suami kadang juga tidak. apakah saya berdosa terhadap suami? bagaimana dengan sikap ortu saya kepada suami yang seakan2 tidak suka.mohon penecrahannya. terima kasih
wassalam.

hak penghasilan istri

Wa alaikum salam wr wb,
Penghasilan seorang istri adalah hak istri, sehingga boleh saja istri menggunakan uang penghasilan tersebut untuk keperluan orangtua istri.

Sebagai seorang istri, salah satu kewajiban yang paling penting adalah ikut apa kata suami, karena setelah menikah tanggung jawab sudah berpindah dari orangtua istri kepada suami.

Mengenai sikap orang tua terhadap suami, bisa saja karena banyak hal seperti perbedaan pandangan terhadap pekerjaan. Ada orang yang senang dengan pekerjaan sebagai pegawai dengan anggapan pendapatannya lebih pasti, ada juga yang lebih senang dengan berdagang dengan pertimbangan lain. Banyak-banyak saja berdoa agar orang tua dapat menerima pekerjaan suami.

Wassalam,

pergi tanpa izin

Assalammuaikum pak ustad..
Setelah melahirkan saya bertengkar dengan suami masalah aqiqah anak saya, dimana uangny dihabiskan suami saya untuk bersenang2 dn tidak pulang selama 2 hari. akibatnya mertua saya yg mmbantu menanggung biaya aqiqah. Namun karna d rumah sering bertengkar dengan suami masalah selingkuhannya saya memutuskan untuk minta orang tua saya menjemput untuk istirahat d rumah ortu saya sampai cuti saya selesai. Namum tidak diizinkan suami saya. Sementara d rumah dia kurang memperhatikan saya malah mmbuat saya stress sampe saya mengalami pendarahan.
Setelah acara aqiqah ortu saya menyampaikn keinginannya untuk mmbawa saya dan suami bertanya kepada saya kalau kamu pergi kamu bukan istri saya lagi. Sebelumnya pada saat ortu dan kerabat saya dtg k rmh dicuekin dan tidak dhargai oleh suami dan pernah suami saya mengusir ibu saya ketika d rmh saya. Saya memilih untuk pergi krn sy tidak mw disiksa lahir dan bathin sy dgn tingkah laku suami saya.
Apakah saya sudah d anggap dicerai sm suami saya?
Apakah sholat saya tidak sah krn sy meninggalkan suami saya?
Apakah saya berdosa kalau tidak kembali?
Saya meminta dia untuk minta maaf kepada ortu dn kerabat saya klu dy msh menginginkan sy dan dy tidak mw.
Apa solusi yag terbaik pak ustad. Ortu sy tdk mengizinkan sy kembali kepadanya bgtu saja krn kami diusir dgn tidak baik malam itu..

Wa alaikum salamDari cerita

Wa alaikum salam

Dari cerita ibu, nampaknya masalahnya kompleks, ada permasalahan dari pihak suami maupun istri. Perilaku suami dari cerita ibu nampaknya tidak baik, namun tindakan istri pergi dari rumah melawan perintah suami juga merupakan suatu kesalahan.

Wassalam.

 

aslm..pa.ustd. yg sy mau

aslm..pa.ustd. yg sy mau tanyakan adalah:
1.istri tdk terbuka pd sy(suami)istri lbh trbka pd ibunya
2. apa yg d suruh suami d abaikan tp klo ibnya menyuruh istri lgsung mau ky yg ktakutan
3.istri tdk mau d ajak pindah/ngontrak
4. sy tgl d rmh mertua,km sdh d karuniai ank perempuan. stiap kl sy mngjk istri u maen k rmh ibu sy.mrtua sllu klhtn mrh,istri jg sm ky mertua ky gx sk brtmu dgn kluarga sy
5.skg sy sdh 2bln tdk tgl d rmh mrtua.istri & ank tgl sm mrtua. sy plg k rmh org tua krn mertua dn istri sy sdh memprmlukan sy dan menjelekan sy d dpn ttg.
pertgkrn trjd antara istri & sy tntg mslh ank.tp istri mnjwb dgn nd ksr dan berteriak2 akhrya prtgkrn trjd,sy cm menampar istri yg bicranya ktor kmudian istri lari kluar rmh u mngdu k ibunya.tnp musyawarah sy yg lg gndong ank,ank sy pun d tarik kk nya kmudian mertua brkta ksr kpd sy.
apkh sy dosa tlh mngglkn istri & ank sy pak ustd..
mrtua dn istri sy tdk mau memafkn sy pa ustd,sy sdh bbrp x ktmu ttp z mrk diam
tolong nshty pa ustd..trmksh
wasslm..

Dalam sebuah keluarga, dasar

Dalam sebuah keluarga, dasar yang paling penting adalah ketaatan pada Allah dan Rasul. Suami taat 100% pada Allah dan Rasul, istri pun demikian. Allah dan Rasul sebutkan bahwa istri mesti taat pada suami, maka istri pun akan taat kepada suami karena istri hendak taat pada Allah dan Rasul.

Agar supaya istri dapat taat pada suami dan kehidupan keluarga mendapat ketenangan, maka mesti dibuat hal-hal berikut ini:

  • Suami sungguh-sungguh belajar untuk kenal dengan Allah & Rasul
  • Suami menjalankan semua ketentuan Allah, baik yang lahir maupun batin. Terutama sekali adalah ibadah shalat yang khusyu.
  • Suami mendidik istri , pertama-tama tentang Allah dan Rasul, sampai Allah dan Rasul dapat dicintai. Jika istri tidak ada ketaatan pada Allah dan Rasul, maka sampai kapan juga istri susah untuk taat pada suami.
  • Kehidupan dalam keluarga juga 100% untuk kehidupan Islam, bukan untuk sekedar bersenang-senang di dunia.

 

sama banget nasibnya seperti

sama banget nasibnya seperti saya..
99 persen sama persis

suami istri sama bekerja

asalamualakum,,, saya mau bertanya saya dan istri sama-sama memiliki penghasilan dan sebelum saya menikah saya sudah paham kalau penghasilan saya wajib saya nafkahin ke istri sya walaupun istri saya memiliki penghasilan sendiri,, dan selain itu saya sudah banyak mendapatat pelajaran dari teman yg sudah berkeluarga dan sama-sama memiliki penghasilan tapi walaupun teman saya sudah menafkahin beberapa persen pengahasilannya ke pada istri tetap aja menjadi masalah buat mereka berdua,, si istri selalu curiga dengan sisa penghasilan suaminya yang di pegang di gunakan untuk apa dan selalu di tanyakan oleh istrinya,, dan begitu sebaliknya suami menanyakan ke istri uang yang dia berikan sering kali digunakan untuk keperluan pribadi istri dan terus merasa kekurangan dan akhirnya menjadi masalah buat mereka dan sebenarnya bisa kita katakan meraka bukan orang kekurangan masalah ekonomi karna faktor ketidak terbukaan yang membuat mereka seperti itu,,, dan dari masalah teman sya ini sya bisa belajar dan menerapkan cara saya sendiri mengatur keuangan saya dan istri,, jadinya setiap saya gajian berapa gaji saya saya kasi tau ke istri sya dan begitu juga istri saya terbuka masalah gajinya ke saya jadinya penghasilan kita berdua kita gabungkan jadi satu dan kita kelola berdua dan sya mengajarkan istri saya untuk membuat pembukuan agar kita tau keluar masuknya uang dan sampai saat ini masih berjalan dan tanpa ada masalah,,, yang ingin saya tanyakan apakan saya salah menerapkan cara seperti itu dengan menggabuangkan penghasilan saya dengan penghasilan istri sya dan kita kelola berdua,, dengan perinsip yang kita buat yaitu "uang saya iya uang km juga, begitu juga sebaliknya uang km iya uang saya juga" saya minta pendapatnya apakah salah saya menerapkan seperti itu,, klo memang itu menyalahkan aturan saya tidak akan menjalankannya lagi,,, tolong di tanggapi karna saya takut apa yg saya lakukan ini salah...trm

Dalam syariat Islam,

  • Dalam syariat Islam, penghasilan istri adalah hak sang istri dan tidak wajib disetor ke suami, istri berhak menggunakannya sendiri. Tentu boleh saja istri mendiskusikan dengan suami tentang penggunaan uang tersebut untuk keperluan keluarga.
  • Penghasilan suami adalah wewenang suami untuk menggunakannya, tentu saja boleh suami mendiskusikan dengan istri tentang penggunaannya.
  • Pemimpin keluarga adalah suami, dan suami lah yang bertanggung jawab jika terdapat kesalahan penggunaan uang dalam keluarga
  • Suami dan istri hendaklah menggunakan harta yang ada pada mereka untuk hal-hal yang sesuai dengan syariat Islam, bukan untuk bermewah-mewah. Jika demikian insya Allah tidak akan ada masalah yang timbul dari hal keuangan tersebut.

Durhaka

Assalamu'alaikum ustaz... bulan lalu saya sempat memaksa suami saya untuk pulang. karena sudah 3 bulan dia meninggalkan kami untuk bekerja. selama bekerja, dia tinggal bersama kakak perempuan dan ibunya. saat itu ibunya sedang sakit, namun saya tidak tahu sakit ibunya itu sangat parah. akhirnya dia meningalkan ibunya tanpa pamit, sebuan kemudian ibunya meninggal, yang ingin saya tanyakan adalah:
1. apakah saya termasuk durhaka?
2. sebelumnya saya pernah berjanji kepada ibuuntuk datang menjenguknya bila ibur tiba. ketia libur saya tidak datang. bagaimana cara saya untuk memenuh jani saya ustaz?
teriamkasih sbelumnya.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer