warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www.kawansejati.org/html/program/lib.php on line 582.

05 Hakikat Syukur Dan Takbir






Untitled Document



HAKEKAT SYUKUR & TAKBIR

Banyak orang yang mengatakan bahwa syukur adalah sekadar mengucapkan kata Alhamdulillah. Padahal itu hanyalah makna syukur menurut bahasa. Ataupun syukur yang sudah menjadi budaya masyarakat kebanyakan. Bila mendapat nikmat walaupun sedikit mengucapkan Alhamdulillah. Syukur seperti itu belum mencapai seperti yang Tuhan kehendaki, atau dengan kata lain belum dapat dikatakan syukur hanya dengan mengucapkan Alhamdulillah. Mengapa demikian? Sebab syukur adalah salah satu sifat mahmudah yang besar nilainya. Bahkan karena besarnya ada ulama berpendapat bahwa pahala syukur lebih besar dari pada sabar. Sedangkan Al Qur'an mengabarkan bahwa dengan sifat sabar seseorang dapat masuk syurga tanpa hisab, betapalah dengan syukur. Karena itu tidak selayaknya kalau hanya mengucapkan alhamdulillah, itu yang dikatakan syukur.

Ada juga yang mengartikan bahwa makna syukur itu kita merasakan semua yang kita dapat baik yang berupa nikmat maupun dijauhkan dari bala bencana, hakikatnya itu dari Tuhan, Tuhan yang memberi. Kalau Tuhan tidak memberi tidak akan dapat. Bila dapat merasakan seperti itu, nilainya lebih baik daripada sekedar ucapan alhamdulillah, tapi itu pun belum cukup. Bila merasakan segalanya dari Tuhan, hanya sekedar untuk mendapat pahala, belum mencapai hakikat syukur.

Hakikat syukur adalah :
1. Diucapkan oleh lidah.
2. Dibenarkan oleh hati, bila mendapat nikmat, teringat kepada Tuhan yang memberi.
3. Nikmat itu digunakan di jalan Tuhan.

Bila ketiga hal ini dapat dilakukan, itulah hakikat syukur yang tepat sesuai dengan kehendak Tuhan. Kenyataan yang ada sekarang ini, syukur yang dilakukan, bila mendapat rezeki, menyebut alhamdulillah, tapi tidak menggunakan uang itu di jalan Tuhan, tidak berkorban fisabilillah. Tidak membantu orang miskin, tidak membangun berbagai projek kebaikan yang akan memberi manfaat kepada masyarakat. Bila sedang sehat atau ada tenaga, mengucapkan Alhamdulillah, tetapi tenaga tidak digunakan untuk perjuangan. Jika naik pangkat menyebut Alhamdulillah, tapi pangkat tidak digunakan untuk kepentingan Tuhan dan orang banyak. Bila mendapat kekayaan, sebut Alhamdulillah tapi kekayaan tidak digunakan di jalan Tuhan. Sebenarnya hal-hal semacam itu seolah-olah main-main dengan Tuhan.

Kemudian bila kita kaitkan dengan ucapan Allahu akbar, maka Allahu Akbar itu adalah himpunan seluruh sifat-sifat Tuhan. Sebab itu Allah pilih perkataan itu untuk diucapkan pada perpindahan rukun sembahyang. Bila kita sebut Allahu Akbar, tergambar di dalamnya Allah Maha mendengar, Maha melihat, Maha Jabbar, Maha Qahar, Maha Ilmu, dan maha segala-galanya. Maka sudah selayaknya ucapan Allahu akbar dipilih dalam sembahyang untuk dibaca setiap perubahan rukun.

Kemudian dengan rahmat Allah dan kasih sayang Tuhan, supaya hambanya jangan merasa tertekan hanya merasa takut saja, setelah takbir dengan mengucapkan Allahu akbar, kita mesti mengucapkan basmalah. Hal ini menggambarkan seolah-olah Allah berkata kepada hambaNya yang sudah penuh dengan rasa takut, "Walaupun Aku ini Hebat, Qahar, Jabar, Maha Kuasa, Maha menghidupkan, Maha mentiadakan, Maha membangun dan Maha memusnahkan, tapi walau bagaimanapun Aku Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Seolah-olah Tuhan memberikan satu kesejukan bagi hati yang tadinya telah merasakan takut dengan kehebatan Tuhan. Begitulah Tuhan telah menjadikan sembahyang itu sebagai perpindahan rasa, dari rasa takut, cemas, bimbang, gemetar, tapi juga harap dan syukur.

Seolah-olah Tuhan berkata ketika kita menghadapNya di waktu sembahyang, walaupun Aku Maha hebat, Maha perkasa, Maha Berani semualah, tapi Aku juga adalah Maha Penyayang, Maha Pengasih. Sebab itu Aku meminta kamu mengucapkan Alhamdulillah. Tapi di saat kita hanya merasakan Tuhan itu Maha Hebat bagaimana hendak mengucapkan Alhamdulillah. Karena itu kemudian Allah sebut, "Aku Maha Pengasih dan Penyayang maka sudah sepatutnya engkau bersyukur ucaplah Alhamdulillah, segala puji bagi Tuhan".

Mengapa kita mesti bersyukur? Mengapa kita mengucapkan Alhamdulillah bukan berkaitan dengan rezeki tapi berkaitan dengan Allah sebagai pencipta alam ini, rabbul alamin? Sebab Tuhan lah yang mengatur seluruh alam. Alam manusia, alam malaikat, alam hewan, alam akhirat dan alam dunia. Mengapa Tuhan tidak mengatakan hendaklah kamu bersyukur karena Aku sudah memberimu rezeki? Karena dunia, bumi, langit, malaikat dan seluruh alam yang Allah ciptakan, ada hubungan dengan kita baik sadar atau tidak. Seolah-olah kita mendapat nikmat yang kita tidak pernah menyadarinya.

Bahkan seluruh planet ada hubung kaitnya dengan kita. Kalau tidak ada planet-planet itu, maka dunia sudah hancur. Begitu juga dengan malaikat, karena malaikat banyak membantu kita. Malaikat memberi hujan, membagi rezeki, keselamatan, dan lain-lain. Jadi seluruh alam itu baik sadar atau tidak, ada hubung kait dengan kehidupan manusia.

Karena begitu banyaknya nikmat dari Tuhan, maka kita ucapkan Alhamdulillahirab-bilalamin bukan Alhamdulillahhirozak, segala puji bagi Tuhan yang memberi rezeki. Ataupun Alhamdulillahill ilmu, pujian-pujian bagi Tuhan yang memberi ilmu. Karena itu patut disadari bahwa kita ucapkan Alhamdulillah, sebab Tuhan sudah memberi seluruh alam seluruhnya, baik sadar atau tidak.

Kalau kita menghayati sembahyang, maka akan makin terasa hebatnya sembahyang. Setiap perkataan mengandung pengertian yang sangat hebat. Dalam satu kata Alhamdulillah pun sudah terkandung makna yang dalam. Karena itu ucapan alhamdulillah mesti diikuti dengan hakikat syukur yang sebenarnya. Bukan hanya sekedar mengucapkan Alhamdulillah tapi juga merasakan bahwa segala nikmat adalah pemberian Tuhan dan kita digunakan untuk memperjuangkan Tuhan di atas muka bumi ini.

=== sekian ===

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer