warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www.kawansejati.org/html/program/lib.php on line 582.

09 Rahsia Kejayaan Pendidikan Rasulullah






Untitled Document



Salah Faham tentang Makna Mendidik

Terjadi salah faham dalam dunia pendidikan sekarang ini. Pendidikan yang ada di sekolah, pesantren dan berbagai universitas sekarang ini sudah disempitkan artinya sekadar transfer ilmu dan kepakaran, baik ilmu-ilmu ekonomi, sosial, bahasa, kebudayaan, hukum, sains, teknologi, perhotelan, maupun ilmu-ilmu Islam seperti tauhid, fikih, tasawuf. Kalaupun ada pendidikan moral atau budi pekerti tetapi tidak dikaitkan dengan cinta, takut dan rindukan Tuhan.

Sistem pendidikan yang ada sekarang ini sekalipun dilabelkan Islam hanya mampu mengubah dasar, matlamat serta teknik pentadbiran akaliah dan lahiriah sahaja, tetapi tidak dapat mengubah jiwa atau ruhaniah manusia sehingga membuatkan mereka merasa diri mereka hamba yang perlu patuh kepada ALLAH. Tegasnya, pendidik dan pemimpin dunia yang ada sekarang tidak faham apa yang dimaksud dengan mendidik manusia karena mereka tidak faham apa itu manusia. Mereka sangka manusia hanyalah fisik dan akal saja. Ada juga yang tahu bahwa selain fisik dan akal, manusia juga memiliki hati nurani atau ruh tetapi tidak tahu betapa pentingnya ruh ini dan tidak tahu bagaimana membangunkan hati nurani atau ruh tersebut. Bahkan mereka sendiri tidak mampu mendidik dan membangunkan hati nurani atau ruh mereka sendiri. Akhirnya mereka hanya mampu menjayakan pembangunan akal dan material saja, sedangkan ruhaniah anak didiknya tidak jauh dengan hewan.

Kegagalan Sistem Pendidikan sekarang

Sistem pendidikan sekarang ini telah gagal dan hanya berhasil menghewankan manusia sehingga menjadi manusia yang sombong, ego, kejam, pemarah, hasad dengki, gila kuasa, gila dunia, menggunakan kekuatan fisik, akal dan segala cara untuk mencapai tujuannya. Dunia sudah menjadi rimba yang dihuni oleh hewan hewan yang berupa manusia. Hasilnya semakin terbangun akal dan material manusia semakin huru-hara dan kacau balau dunia. Tiada kasih sayang, keamanan, kedamaain dan keharmonia. Jauh sekali dari pada keampunan Tuhan. Padahal kejayaan besar seorang pendidik atau pemimpin ialah dapat melakukan pembangunan insaniah manusia sehingga mereka mengalami perubahan jiwa, fikiran dan fizikal. Insaniahnya dibangunkan sehingga mempunyai ciri-ciri malaikat, akalnya dibangunkan dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat, selamat dan menyelamatkan dan fisiknya dibangunkan sehingga menjadi sehat dan kuat untuk beribadah kepada Allah dan berbakti kepada sesama.

Sistem pendidikan yang ada sekarang melahirkan 2 jenis manusia yang ekstrim : sistem pendidikan tradisional melalui pesantren melahirkan manusia yang hanya berkutat kepada fikih, halal haram dan kurang memperdulikan kemajuan pembangunan material dan yang lainnya adalah sistem pendidikan barat yang telah melahirkan manusia yang pandai membuat kemajuan material tetapi memisahkan Islam dan pembangunan. Aktivitas profesional keseharian mereka tidak dikaitkan dengan Tuhan.

Pendidikan Islam sudah diselenggarakan dengan tata cara yang tidak Islam, mengikut cara Barat dan Yahudi. Padahal barat memang hendak mematikan akal dan jiwa umat Islam sejak zaman penjajahan. Penekanan bukan pada perubahan insan tetapi pada transfer ilmu yang ditandai dengan selembar ijazah atau diploma yang begitu diagung-agungkan dan dijadikan tujuan. Selembar ijazah itulah yangakan menentukan jabatan dan gaji seseorang. Sepatutnya orang yang faham khazanah agama Islam, Al Qur'an atau hadis, dia akan menjadi orang yang tahu dan faham dengan ilmu dunia akhirat. Tetapi sistem pendidikan Islam sekarang ini menghasilkan orang-orang yang lemah jiwa walaupun mereka banyak mengetahui ilmu Islam, hapal Qur'an hapal hadis. Sudah ribuan orang di negara kita yang lulus universitas Islam, hapal Qur'an, tetapi susah untuk mencari seorangpun yang menjadi tokoh yang bertaqwa dalam bidang ekonomi, politik, teknologi, kemasyarakatan, kebudayaan, pendidikan dan lain-lain. Susah mencari sarjana dan orang hapal Qur'an yang begitu berwibawa sehingga disegani oleh barat. Disegani bukan karena aksi-aksi kekerasannya tetapi karena taqwanya. Padahal dalam Qur'an itu ada bermacam-macam khazanah ilmu dan didikan yang akan menguatkan jiwa dan menaikkan wibawa.

Mengapa ini terjadi?

Sebenarnya yang berhak mendidik manusia adalah Tuhan. Tuhanlah yang mencipta manusia, yang mencipta dunia. Sudah tentu Tuhan tahu masalah dunia, tahu akal fikiran, nafsu dan ruhaniah manusia. Jadi kaedah yang paling tepat untuk mendidik manusia tentu datang dari Tuhan. Kaedah itu Tuhan kirim melalui utusanNya, yaitu Rasulullah SAW. Tetapi manusia sekarang sudah mengambil kuasa Tuhan untuk mendidik. Mereka guna akal dan kaedah ciptaan mereka untuk mendidik manusia. Ini suatu kesalahan besar yang dibuat manusia. Secara sadar atau tidak, manusia sudah menuhankan dirinya sendiri. Manusia sudah mengambil hak Tuhan. Manusia sudah ingin menjadi Tuhan. Maka datanglah kemurkaan Tuhan kepada mereka, maka Tuhan akan berlepas diri dan tidak membantu mereka dalam mendidik manusia. Semakin banyak sekolah dan universitas dibangunkan, semakin banyak orang-orang memasuki sistem pendidikan buatan manusia, semakin banyak kejahatan dan masalah dalam masyarakat. Itulah sumber utama masalahnya. Inilah rahasia yang tersembunyi, rahasia yang tersirat, yang ahli dan pakar pendidikan tidak nampak, sebab mereka hanya melihat yang lahiriah saja dengan mata dan akal saja. Seolah Tuhan berkata, engkau hendak menjadi Tuhan, didiklah manusia dengan dengan akal dan caramu. Maka gagallah mereka. Masyarakat yang mereka didik hasilnya semakin kacau dan huru hara.

Sistem Pendidikan Islam

Tujuan pendidikan Islam dapat diringkas sebagai berikut:

Pertama, untuk melahirkan insan yang berjiwa taqwa, yakni insan yang hidupnya hanya untuk menyembah dan mengabdikan diri kepada ALLAH.

surat:51 ayat:56

Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah Aku. (Az Zariat: 56)

Kedua, untuk melahirkan insan-insan yang sanggup bekerja sebagai khalifah (duta) ALLAH. Mereka bekerja full time dengan kerajaan ALLAH untuk membangunkan syariat ALLAH dan melaksanakan tugas yang diamanahkan oleh ALLAH.

surat:2 ayat:30

Sesungguhnya Aku akan menjadikan di muka bumi seorang khalifah (Al Baqarah: 30)

Mendidik menurut Islam adalah mengubah individu-individu yang tidak kenal Tuhan dan hidup dalam sistem jahiliah kepada pribadi-pribadi soleh dan solehah yang kenal, cinta dan takutkan Tuhan serta menjalankan sistem hidup Islam. Manusia terdiri dari jasad lahir, akal dan ruh, maka sistem pendidikan Islam berusaha untuk mengubah fikiran, jiwa (ruh) dan fizikal manusia sehingga lahir zaman kegemilangan peradaban manusia.

Karena hakekat manusia adalah ruh (hati) atau dengan kata lain yang menjadi raja dalam diri manusia adalah ruh atau hati maka Islam menumpukan usaha-usaha untuk mendidik hati atau ruh ini. Islam mendasarkan pendidikannya kepada pembangunan insan yaitu untuk melahirkan manusia-manusia yang semula tidak kenal, tidak cinta, tidak takut dan tidak rindukan Allah kepada manusia yang kenal, cinta, takut dan rindukan Allah serta memiliki rasa bertuhan dan rasa kehambaan yang tajam. Untuk melaksanakan dan mengoptimalkan peran kedua manusia yaitu menjadi khalifah Allah di muka bumi, maka sistem pendidikan Islam dilengkapi juga dengan pelatihan dan pemberian ilmu yang bersifat kepakaran sesuai dengan yang diperlukan dalam kehidupan. Jadi dalam sistem pendidikan Islam, pelatihan dan pemberian ilmu yang bersifat kepakaran adalah pelengkap saja bukan program utama.

Hasil dari pendidikan Islam akan lahirlah manusia-manusia yang mempunyai sifat-sifat hamba, manusia yang berakhlak seperti akhlak seorang hamba, yang bersikap sebagai seorang hamba. Manusia yang mempunyai sifat malu, menyerah diri dengan Tuhan, merujuk kepada Tuhan, redho dengan Tuhan, sabar takut dan cinta Tuhan, membesarkan Tuhan, mensucikan Tuhan dari berbagai macam syirik, memuji Tuhan, dan lain lain. Manusia bukan saja tahu bahwa dia seorang hamba tetapi dia juga bersikap sebagai seorang hamba.

Merasakan diri sebagai hamba selain sangat penting untuk diri sendiri, tetapi juga sangat penting bagi manusia dalam memainkan peranan kedua yaitu sebagai khalifah Allah. Supaya ketika dia melaksanakan peranan mentadbir dunia, mengatur dunia, mengimarahkan dunia, memajukan dunia, memakmurkan dunia, menyelamatkan dunia, mengamankan dunia, dan mengharmonikan dunia, dia akan tadbir dan atur dengan baik. Jika dia tidak dapat mengekalkan sifat hamba tersebut, maka dia akan zalim di bidangnya. Kalau dia pemimpin, mengatur ekonomi, dia akan zalim di bidangnya. Begitu juga di bidang pendidikan, dibidang kebudayaan, dia akan zalim. Mengapa terjadi demikian?

Bila seseorang tak ada sifat kehambaan lagi, maka lahirlah sifat-sifat ketuanan: ego, sombong, pemarah, rasa diri tinggi dan lain-lain. Kalau khalifah bersikap seperti itu maka manusia akan mendapat kesusahan. Bukan sampai disitu saja efeknya, tapi iapun pasti mendapat reaksi dari orang lain, yaitu dari pihak yg ditadbir. Maka akan terjadilah konflik diantara dua golongan, yaitu : golongan yang mendapat kuasa dan golongan yang diperiintah atau diatur. Bila terjadi konflik, maka hilanglah kasih sayang, hilanglah perpaduan, hilanglah kebahagiaan dan keharmonian.

Sistem pendidikan Islam menjadikan pendidikan Rasulullah SAW sebagai model dan ikutan. Rasulullah mendidik manusia bukan dengan ilmunya dan bukan dengan fikirannya yang direka-reka. Selaku Pesuruh Allah, baginda mendapat wahyu dari ALLAH. Rasulullah SAW tidak menambah atau mengurangkan kehendak Al Quran dan Sunnah dalam pendidikan yang diwujudkannya. Apa yang terkandung di dalam A1 Quran dan Sunnah itulah saja bahan-bahan dan cara yang dipakai, yang telah berhasil mengubah bangsa Arab menjadi bangsa yang besar, dihormati dan penting dalam sejarah. Dalam waktu hanya 23 tahun saja, pendidikan Rasulullah SAW sudah berhasil mengubah manusia-manusia gurun yang liar menjadi malaikat-malaikat berupa manusia yang mampu menguasi ¾ dunia dengan iman dan kasih sayang.

Al Quran dan Sunnah membagi pendidikan kepada dua tahap : tahap Makkah dan tahap Madinah. Di tahap Makkah, Rasulullah membangunkan insan. Sedangkan di Madinah, baginda mulai membangun fisikal, akal dan mental.

Sebab keberhasilan Rasulullah yang paling utama ialah karena baginda belajar dengan ALLAH tentang bagaimana mendidik manusia. Oleh kerana ALLAH yang mencipta manusia dan seluruh alam ini, maka Dialah yang paling tahu cara-cara mendidik manusia. Manusia, walau bertaraf nabi atau wali atau ustaz atau Perdana Menteri atau ahli falsafah sekalipun, tentu tidak semampu ALLAH dalam menyelesaikan berbagai masalah. Sebab itu siapa yang merujuk kepada ALLAH dan Rasul yakni Al Quran dan Sunnah, insya-ALLAH akan berhasil mengulangi sejarah keberhasilan Rasulullah.

Bila dikaji secara ringkas, bahan pendidikan melalui Al Quran dan Hadis yang diamalkan Rasulullah SAW adalah sebagai berikut :

  1. Mendidik jiwa tauhid agar tumbuh rasa kehambaan yang tinggi terhadap ALLAH SWT. Ini dibuat dengan membawa manusia berfikir tentang kebesaran ALLAH, kuasa ALLAH, kehebatan ALLAH, kebaikan ALLAH, rahmat ALLAH serta nikmat-Nya.
  2. Mendidik hati agar rasa rindu dengan Syurga ALLAH, rahmat ALLAH, keampunan ALLAH, bantuan ALLAH dan lain-lain. Ini dilakukan dengan menyebutkan khabar-khabar gembira (tabsyir) tentang perkara-perkara tersebut.
  3. Mendidik iman dan taqwa di hati agar manusia merasa gerun dengan Neraka dan azab ALLAH, serta ancaman-ancaman dan kemurkaan ALLAH. Hal ini didapati dengan menyebut perkara-perkara yang menakutkan manusia (tanzir).
  4. Mendidik manusia agar melakukan amal soleh dan berakhlak mulia. Untuk itu, Al Quran banyak menceritakan sejarah hidup para nabi, rasul dan orang-orang soleh yang patut dijadikan panduan hidup manusia.
  5. Mendidik manusia agar menghindari sifat-sifat jahat dan agar selamat dari api Neraka. Maka diceritakan perihal orang-orang jahat atau musuh ALLAH seperti Firaun, Namrud, Qarun, Haman dan lain-lain.
  6. Mendidik manusia agar memiliki sikap hidup yang khusus sebagai seorang islam, agar selamat di dunia dan di Akhirat. Maka A1 Quran mengajarkan tentang syariat atau hukum-hukum ALLAH. Ada perkara haram dan makruh yang perlu dijauhi. Ada pula perkara wajib, sunat dan mubah yang perlu buat.

Demikianlah secara ringkas garis panduan tentang bahan-bahan pendidikan Rasulullah. Mengikutinya akan menjadikan seseorang itu beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia dengan ALLAH dan dengan sesama manusia, dan membanyakkan amal-amal soleh. Ini dapat kita lihat pada peribadi Rasulullah dan para sahabat, merekalah orang yang paling banyak melaksanakan bahan-bahan didikan dari ALLAH itu

Rasulullah banyak mendidik secara informal

Rasulullah mendidik para sahabat dan anggota masyarakat 99% secara tidak formal, di semua tempat : di atas unta, di masjid, di pasar, di kedai-kedai, waktu istirahat, ketika musafir, di majlis kenduri, di majlis kematian, di medan perang, dan lain-lain. Hal inilah yang dilakukan dan diteruskan oleh para sahabat. Kalau kita kaji sejarah, belum pernah kita dengar misalnya, 'malam sabtu ini datanglah ke masjid A, ada ceramah dari Rasulullah atau hari ahad ini akan ada program tabligh akbar Rasulullah jam 11 pagi di kampung ini'. Ringkasnya, kemana saja Rasulullah pergi dan siapa saja yang ditemui, baginda akan menyampaikan didikannya. Kalau yang ada itu seorang, maka seoranglah yang dididiknya. Tapi kalau ramai, ramailah yang terlibat. Rasulullah tidak membiarkan maksiat atau kesilapan seseorang itu terus terjadi. Waktu itu juga ditegur dan dibaiki.

Bila jumpa orang itulah kuliah, itulah dakwah, itulah pendidikan. Walau tidak bercakap, tapi Rasulullah buat lisanul hal. Bila Rasulullah SAW jalan, dia melihat orang yang sedang perah susu kambing, maka Rasulullah SAW akan menghampiri dan bertanya khabar. Rasulullah SAW akan bercerita bahwa Allah Esa, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Jalan-jalan lagi, ingin minum di kedai. Orang yang ada di sana lebih banyak lagi. Katalah yang akan disampaikan tajuk pemurah dan dia tidak ada kesempatan untuk bercakap, sebab semua orang sibuk. Maka dia akan buat lisanul hal. Selepas makan dia akan membayarkan semua orang. Begitulah Rasulullah SAW mendidik secara tidak formal dan hasilnya lebih berkesan karena dari hati ke hati. Hari ini kita banyak berhadapan dengan keadaan yang sudah formal, jadi kita hendaklah berhikmah, kita dapat buat dengan dua cara : secara formal dan informal.

Cara pendidikan begini, yang disebut mubasyarah (secara langsung), dilakukan dengan lisan (lisanul maqal atau dengan sikap (lisanul hal). Dalam sistem pendidikan sekarang, pendidikan begini disebut pendidikan informal (tidak resmi). Ia dapat dilakukan di sembarang tempat, pada sembarang waktu, dan pada setiap orang. Rasulullah memberi prioritas kepada pendidikan informal dari pendidikan formal (resmi) kerana cara informal ini lebih berhasil, praktis dan memberi hasil yang cepat dan konkrit. Manakala pendidikan formal hanya menambahkan teori-teori yang jarang dipraktekkan.

Sistem pendidikan Rasulullah ini kelihatan mempunyai maksud untuk melahirkan manusia yang mengamalkan ilmunya. Baginda tidak menekankan ilmu yang tinggi atau ilmu yang banyak, sebaliknya memberi keutamaan kepada pengamalan ilmu.

Rasulullah menjadi model dan ikutan

Salah satu faktor penting kesuksesan pendidikan Rasulullah adalah karena Rasulullah menjadikan dirinya sebai model dan teladan. Rasulullah itu adalah A1 Quran hidup. Apa juga perintah ALLAH, bagindalah orang awal yang melaksanakannya. Apa juga larangan ALLAH, baginda dahulu yang meninggalkannya. Dan apa-apa yang dianjurkan oleh ALLAH nescaya akan baginda lakukan. Bahkan percakapan baginda juga tidak terkeluar dari maksud-maksud tadi. Hal demikian menyebabkan para sahabat mudah untuk meniru didikan Rasulullah. Para sahabat benar-benar terbawa oleh Rasulullah melalui sikap dan percakapan baginda yang senantiasa menuju kepada kehendak-kehendak ALLAH. Bahkan para sahabat adalah orang yang ghairah melaksanakan apa yang dikata dan dibuat oleh Rasulullah. Demikianlah berhasilnya pendidikan Rasulullah.

Sekolah atau sistem pendidikan Rasulullah tidak memerlukan pengakuan kelulusan melalui gelar yang berbagai macam. Karena penekanan baginda bukan pada menghafal, mengingat dan menulis kembali ilmu yang ada dalam kitab atau dalam kepala. Nilai tertinggi bagi seseorang yang menuntut ilmu, menurut ALLAH dan Rasul, ialah pada TAQWA. Ukuran taqwa ialah pada akhlak dan amal soleh yang dilakukan oleh seseorang murid, setelah selesai pengajiannya. Dengan pertimbangan demikian, orang yang lahir dari sistem pendidikan Rasulullah ialah orang yamg langsung beramal, bekerja dengan ilmu yang ia dapat, bukan karena gaji, tapi kerena ALLAH. Artinya mereka bekerja dengan penuh tanggungjawab, bersih dari dosa dan maksiat, dan selamat dari mengharapkan sebarang kepentingan duniawi atau peribadi.

Dengan cara pendidikan demikian yang disambung pelaksanaannya oleh sahabat-sahabat, maka lahirlah generasi awal para sahabat yang jiwa, mental dan fisik mereka sangat terpimpin. Akhlak dan amal soleh mereka tiada tandingan, sehingga mendorong orang banyak masuk Islam. Mereka dapat menegakkan sistem Islam atau hukum-hukum ALLAH dalam kehidupan masyarakat sehingga meliputi hampir 3/4 dunia.

Program pemberian ilmu dan ketrampilan

PROGRAM PENDIDIKAN yang diterapkan oleh Rasulullah untuk tujuan mengemaskan gerakan perjuangan Islam bersama para sahabat dilakukan juga dengan menyuburkan minat bakat dan profesional para sahabat dalam bidang kehidupan seperti bertani, berniaga, kebudayaan, ketentaraan dan lain-lain. Setelah itu Rasulullah SAW membuat pembagian tugas kepada para sahabat sesuai dengan minat bakat dan profesional masing-masing. Hal ini dilakukan di Madinah, yakni sesudah pendidikan insan di Makkah. Ketika itu telah wujud sebuah masyarakat atau negara kecil Islam, yang memerlukan satu sistem pengaturan atau sistem hidup untuk dilaksanakan. Para sahabat waktu itu telah bersedia untuk diberi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing. Mereka telah menerima hukum dan undang-undang ALLAH untuk dilaksanakan dan diperjuangkan dalam hidup mereka.

Hati para sahabat yang sudah dididik dengan iman juga benar-benar tunduk pada sebarang perintah ALLAH dan Rasul. Dalam keadaan inilah Rasulullah membuat pembagian tugas pada para sahabat. Bidang-bidang kerja yang ada dalam masyarakat Islam yang dibangun oleh Rasulullah itu termasuk di dalamnya ekonomi, kemasyarakatan, ketentaraan, gerakan dakwah, pengaturan negara kecil Islam, dan perhubungan antar negara.

Maka para sahabat dilibatkan dalam mana-mana bidang yang sesuai dengan watak dan kemampuan masing-masing orang. Contohnya: Sayidina Abdur Rahman bin Auf ditugaskan menjadi pengarah pasar (Menteri Ekonomi) untuk mengendalikan pusat perdagangan Islam yang telah dibangunkam oleh Rasulullah bernama 'Suqul Ansar' (Pasar Ansar). Sayidina Muaz bin Jabal dilantik menjadi guru dan mubaligh. Sayidina Jaafar bin Abu Talib dilantik menjadi ketua tentara. Sahabat Dehyatul Qalbi dilantik sebagai wakil baginda untuk bertemu dengan Maharaja Rom bagi menyampaikan Islam kepadanya. Begitulah seterusnya. Semua sahabat diberi tugas-tugas khas oleh Rasulullah.

Ada di kalangan para sahabat yang terus menjadi ketua negara di tempat mereka mengembamgkan Islam itu. Ada juga yang menjadi ketua tentara. Dan kebanyakannya menjadi mahaguru di tempat mereka ditugaskan.

Begitulah perjuangan Rasulullah dan para sahabat untuk membangunkan insan dengan Islam dan iman di samping membangunkan peradaban Islam sebagai cara hidup dalam setiap aspek kehidupan manusia. Perjuangan ini disambung oleh para tabiin dan tabiit tabiin sehingga 300 tahun dari Rasulullah SAW. Tahun-tahun itu diakui oleh Rasulullah sebagai kurun-kurun terbaik.

=== sekian ===

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer