Nabi Musa Kembali ke Tanah Suci (bagian 4)

Padang Tih

Bani Israil pun mengembara di padang tandus--Padang Tih itu--sebagai akibat kesombongan mereka. Tapi karena kasih sayang ALLAH, berkat dari adanya para rasul dan orang-orang shalih di antara mereka, bantuan ALLAH pun senantiasa tercurah. Ketika mereka kehausan, ALLAH mewahyukan pada Nabi Musa untuk memukul batuan dan terpancarlah dua belas mata air untuk tiap suku Bani Israil. Mereka pun minum di situ. Ketika mereka lapar, mereka meminta pada Nabi Musa agar ALLAH menganugerahkan makanan. Maka ALLAH pun mengirimkan Manna dan Salwa.

Manna adalah sejenis makanan berwarna putih yang manis seperti madu. Ketika Bani Israil bangun pagi hari, mereka mendapati Manna sudah menempel di pepohonan dan batuan. Mereka tinggal mengambilnya. Cuma-cuma. Barang siapa mengambil lebih dari keperluan, Manna itu akan cepat membusuk.

Salwa adalah burung-burung jinak sejenis burung puyuh yang sangat jinak. Salwa selalu datang ke kemah-kemah Bani Israil pada siang hari menjelang sore. Daging Salwa itu sangat gurih dan mudah ditangkap. Tiap sore burung Salwa yang turun mencapai ribuan ekor sehingga Bani Israil tidak pernah merasakan kelaparan.

Beberapa lama kemudian, sebagian Bani Israil merasa bosan pada pemberian Tuhan itu. Mereka meminta Nabi Musa agar memohon pada Tuhan supaya Tuhan menurunkan sayur-sayuran dan kacang-kacangan. Nabi Musa marah dan heran, mengapa mereka sanggup mengganti nikmat Tuhan itu dengan barang-barang yang nilainya rendah. Beliau pun menegur umatnya dengan keras.

Qarun

Suatu ketika Nabi Musa harus menghadapi seorang yang kafir dan sombong di kalangan Bani Israil. Namanya Qarun. Dia adalah sepupu Nabi Musa. Qarun ini sangat kaya, bahkan kunci-kunci gudang hartanya pun mesti dipanggul oleh segolongan orang perkasa. Qarun sangat sombong dengan kekayaannya. Kesombongannya selain disebabkan oleh perasaannya bahwa dialah yang mengusahakan sendiri kekayaan tersebut --dan bukan Tuhan-- juga karena sebagian kaum Bani Israil memandang kekayaannya dengan perasaan kagum dan sering membicarakannya. Bahkan bermimpi ingin seperti Qarun.

Qarun sebenarnya sudah dinasehati oleh orang-orang shalih Bani Israil, tapi dia terlalu tinggi hati untuk mendengarnya. Terakhir, Nabi Musa menasehatinya. Tetapi ia tak mau mendengar. Setelah beberapa kali dinasehati, ia malah berusaha memfitnah Nabi Musa. Dia menyewa seorang perempuan untuk mengaku bahwa Nabi Musa pernah berbuat tidak senonoh dengan perempuan tersebut. Sampai di situ, Nabi Musa pun memohon perlindungan pada Tuhan. Tuhan pun memerintahkan bumi agar tunduk pada Nabi Musa. Nabi Musa memukulkan tongkatnya dan bumi terbelah, menelan Qarun dan seluruh harta kekayaannya. Para pengagum Qarun pun menyesal, dan bersyukur tidak ikut tertelan bumi.

Sapi Betina

Suatu ketika, Bani Israil menghadapi suatu perkara pembunuhan. Pembunuhnya tidak diketahui. Yang terbunuh adalah seorang tua yang cukup kaya. Tiba-tiba pada suatu pagi orang tersebut mati terkapar di depan pintu seorang Bani Israil. Karena peristiwa tersebut, hampir terjadi perang saudara. Kemudian mereka mendatangi Nabi Musa. Nabi Musa pun memohon pada ALLAH agar membuka rahasia pembunuhan itu. Maka ALLAH mewahyukan pada Nabi Musa agar mereka menyembelih seekor sapi betina. Mereka tersinggung dengan itu karena mengira bahwa Nabi Musa mau memperolok mereka sebab suatu masa dulu mereka pernah menyembah anak sapi. Maka mereka pun bertanya pada Nabi Musa, sapi betina yang bagaimana. Setelah dijawab oleh Nabi Musa (dengan wahyu dari ALLAH), mereka bukannya langsung melaksanakannya, tetapi malah bertanya warna sapi tersebut. Maka turun jawaban dari ALLAH tentang warnanya yang sangat jarang terdapat pada seekor sapi. Tapi karena malas, mereka bertanya lagi tentang hakikat sapi tersebut. Setelah diterangkan hakikat sapi tersebut, hampir saja mereka tidak menemukannya. Hanya ada satu sapi seperti itu di seluruh negeri dan mereka harus membayarnya dengan sangat mahal, yaitu emas seberat kulitnya.

Kemudian sapi itu disembelih. Nabi Musa memukulkan sebagian tubuh sapi itu pada mayat orang tua yang terbunuh. Mayat itu terbangun, memberitahukan siapa pembunuhnya dan kemudian mati kembali. Hampir saja Bani Israil tidak dapat menjalankan perintah Nabi Musa tersebut. Demikianlah, seandainya dari awal Bani Israil langsung mengerjakannya, mereka akan mendapatkan kemudahan karena tidak ada persyaratan tertentu dari ALLAH.

12 Suku

Nabi Musa mengangkat ketua-ketua untuk tiap suku Bani Israil. Yashur bin Shudai'ur untuk suku Rubail. Syalumai'il bin Huraisyada untuk suku Syam'un. Nahsyun bin Aminadzab untuk suku Yahudza. Nasya'il bin Shau'ir untuk suku Yasakhir. Yusya' bin Nun untuk suku Yusuf as. Jamliyail bin Fadahshur untuk suku Misya (suku Zabilun). Abidan bin Jad'un untuk suku Bunyamin. Ilyasaf bin Ra'wayl untuk suku Jaad. Faj'ai'il bin Akran untuk suku Asyir. Akhya'zar bin Amsyada untuk suku Dan dan Al Bab bin Hailun untuk suku Naftali.

Suku Lawi (suku Nabi Musa dan Harun) tidak tersebut di atas karena mereka bertugas menjaga kubah Bani Israil yang di dalamnya ada tabut Bani Israil. Kubah ini sudah ada semenjak sebelum penyembahan mereka pada anak sapi. Kelak, setelah mereka menguasai Baitul Maqdis, kubah ini diletakkan di lokasi Baitul Maqdis yang dibangun oleh Nabi Ya'kub as. Dan inilah kiblat para Nabi hingga datangnya perintah pada Rasulullah saw. untuk memindahkan kiblat ke Baitullah di Makkah.

Sekilas Tentang Tabut

Tabut Bani Israil adalah suatu peti dengan panjang dua setengah hasta, lebar dua hasta, dan tinggi satu setengah hasta. Pintunya berlapis emas murni. Dalam tabut inilah lembaran-lembaran Taurat disimpan. Saat ini tabut Bani Israil itu hilang. Diceritakan bahwa tabut itu akan ditemukan kembali oleh Imam Mahdi pada akhir zaman, di sekitar daerah Antiokia.

Meninggalnya Nabi Harun dan Nabi Musa

Setelah beberapa tahun berada di Padang Tih, Nabi Harun wafat. Bani Israil sempat memfitnah Nabi Musa bahwa beliaulah yang membunuh Nabi Harun. Tapi ALLAH membela Nabi Musa dengan menurunkan jasad Nabi Harun dari langit. Setelah 40 tahun bersama Bani Israil di Padang Tih, wafatlah Nabi Musa. Nabi Musa berdoa pada ALLAH agar beliau wafat di dekat Baitul Maqdis dan ALLAH mengabulkannya.

Menduduki Baitul Maqdis

Penerus kerasulan Nabi Musa adalah Yusya' bin Nun. Beliaulah yang meneruskan kepemimpinan terhadap Bani Israil hingga Bani Israil berhasil menduduki Baitul Maqdis.

Bersama Nabi Yusya', Bani Israil berhasil menyeberangi Sungai Jordan dan langsung mengepung Baitul Maqdis. Nabi Yusya' mengepung kota tersebut selama enam bulan. Pada suatu hari Jumat di mana kemenangan sudah hampir diperoleh, matahari hampir terbenam dan waktu akan masuk ke hari Sabtu, hari ibadah yang disyariatkan untuk Bani Israil karenanya mereka dilarang berperang. Nabi Yusya' pun berdoa dan ALLAH menahan matahari hingga Nabi Yusya' dan Bani Israil berhasil menduduki Baitul Maqdis.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer