warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www.kawansejati.org/html/program/lib.php on line 582.

Perantara dalam tawasul





Untitled Document




Menurut keterangan di Al Quran dan Hadis, terdapat beberapa perkara yang dapat dijadikan sebagai wasilah/perantara dalam tawasul, yaitu sebagai berikut: 
  • Tawassul dengan Nama-Nama Allah yang Agung
  • Tawassul melalui Amal Soleh
  • Tawassul melalui Do'a Rasul
  • Tawassul melalui Do'a Saudara Mukmin
  • Tawassul melalui Diri Para Nabi dan Hamba Saleh
  • Tawassul melalui Kedudukan dan Keagungan Hamba Sholeh
  • Tawassul melalui orang yang sudah wafat
  • Tawassul melalui orang yang belum lahir

Tawasul dengan nama Allah

Allah swt. berfirman:

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, Maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS al-A'raf: 180)

Tawasul melalui amal soleh

Allah swt. dalam al-Qur'an berfirman:

Dan (ingat- lah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo'a): Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah Taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang' (QS al-Baqarah 127-128)

Ayat di atas menjelaskan bagaimana hubungan antara Amal Sholeh (pembangunan Ka'bah) dengan keinginan/permohonan Ibrahim al-Khalil agar Allah swt. menjadikan dirinya, anak-cucunya sebagai muslim sejati dan agar Allah menerima taubatnya.

Tawasul melalui do'a Rasul

Tentang keagungan nama Rasulullah, Allah swt. berfirman:

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah Telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih (QS an-Nur: 63)

Hadirnya Rasulullah menghindarkan manusia dari azab/siksaan. Allah swt. berfirman:

Dan Allah sekali-kali tidak akan menyiksa/mengadzab mereka, sedang kamu (Rasulullah )berada diantara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun (QS al-Anfal: 33).

Allah swt. menyandingkan nama-Nya dengan nama Rasulullah saw.:

Mereka (orang-orang munafik) mengemukakan udzurnya kepadamu, apabila kamu telah kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah: Janganlah kamu mengemukakan uzur; kami tidak percaya lagi kepadamu, (karena) sesungguhnya Allah Telah memberitahukan kepada kami beritamu yang sebenarnya dan Allah serta rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu dikembalikan kepada yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan' (QS at-Taubah: 94).

Allah menjadikan Rasulullah sebagai jalan untuk mendapatkan pengampunan. Allah swt... berfirman:

Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (QS an-Nisa': 64).

Ayat ini dikuatkan dengan ayat lainnya, seperti firman Allah swt...:

Dan apabila dikatakan kepada mereka: marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri (QS al-Munafiqqun: 5).

Tawasul melalui doa orang Mukmin

Dalam al-Qur'an, Allah swt berfirman:

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdo'a: Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami , dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman'; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.' (QS al-Hasyr: 10).

Dalam ayat ini ditunjukkan tentang berdoa minta ampun untuk diri dengan cara mendoakan orang-orang terdahulu. Artinya orang-orang terdahulu tersebut dijadikan sarana wasilah.

Tawasul melalui Nabi dan Hamba soleh

Ada hamba-hamba Allah yang namanya telah ditinggikan . Allah swt.. berfirman:

Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu (QS al-Insyirah: 4).

Orang-orang semacam itu (manusia Sholeh pengikut sejati Rasulullah), mereka adalah para pemiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, maka Allah swt.. memerintahkan kepada segenap kaum muslimin lainnya untuk memuliakan dan menghormati mereka.

Allah swt.. berfirman:

(yaitu) Orang-orang yang mengikuti Rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS al-A'raf: 157).

Jika kunci terkabulnya do'a terdapat pada kepribadian dan kedudukan luhur di sisi Allah swt.. yang dimiliki oleh setiap manusia Sholeh tadi maka sudah menjadi hal yang utama jika mereka dijadikan sebagai sarana (wasilah) oleh segenap manusia muslim biasa untuk mendapat keridhoaan Allah. Sebagai- mana do'a mereka pun selalu didengar dan dikabulkan oleh Allah swt..

Jika ada kelompok muslim yang membolehkan menjadikan do'a manusia sholeh sebagai sarana (wasilah) menuju ridho Allah maka menjadikan sarana (wasilah) kepribadian ( dzat/syakhsyiyah ) dan kedudukan ( jah/ maqom / manzilah / karamah / fadhilah ) manusia sholeh tadi pun lebih utama untuk diperbolehkan. Karena antara sarana pengkabulan do'a' dan sarana kedudukan/kepribadian agung manusia sholeh' terdapat relasi/hubungan erat dan menjadi konsekuensi logis, nyata dan sah (syar'i). Memisahkan antara keduanya sama halnya memisahkan dua hal yang memiliki relasi erat, bahkan sampai pada derajat hubungan sebab-akibat. Karena, pengkabulan do'a manusia sholeh oleh Allah swt. disebabkan karena kepribadiannya yang luhur , dan kepribadian luhur itulah yang menyebabkan kedudukan mereka diangkat oleh Allah swt.. Tawassul jenis ini juga memiliki sandaran hadits yang diriwayatkan oleh para imam perawi hadits dari Ahlusunnah melalui jalur yang sohih yaitu riwayat tig orang yang tertutup didalam goa. Untuk menyingkat halaman, bagi yang ingin menelaah lebih lanjut hadits-hadits tersebut, silahkan merujuknya dalam kitab-kitab hadits seperti; Musnad Imam Ahmad bin Hanbal; jilid: 4 halaman: 138 hadits ke-16789; Sunan Ibnu Majah; jilid: 1 halaman: 441 hadits ke-1385; Sunan at-Turmudzi; jilid: 5 halaman: 531 dalam kitab ad-Da'awaat, bab 119 hadits ke-3578 dan kitab lainnya.

Tawassul melalui kedudukan dan keagungan hamba soleh

Disamping yang telah kita singgung pada bagian sebelumnya, jika kita telaah dari sejarah hidup para pendahulu dari kaum muslimin niscaya akan kita dapati bahwa mereka melegalkan tawassul dengan jalan ini, sesuai pemahaman mereka tentang syari'at yang dibawa oleh Rasulullah saw. Mereka bertawassul melalui kedudukan dan kehormatan para manusia Sholeh, dimana diyakini bahwa para manusia sholeh tadi pun memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah swt...

Manusia sholeh yang dimaksud disini adalah sebagaimana apa yang di kemukakan oleh Rasulallah saw. kepada Muadz bin Jabal ra ini, Rasulallah bersabda:

Wahai Muadz, apakah engkau mengetahui apakah hak Allah kepada hamba-Nya?. Muadz menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui'. Kemudian Rasulallah bersabda: Sesunguhnya hak Allah kepada Hamba-Nya adalah hendaknya hamba-hamba-Nya itu menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya terhadap apapun'. Agak beberapa lama, kembali Rasulallah bersabda: Wahai Muadz !' aku (Muadz) menjawab: Ya wahai Rasulallah !?'. Rasulallah bertanya: Adakah engkau tahu, apakah hak seorang hamba ketika telah melakukan hal tadi?'. aku (Muadz) menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui'. Rasulallah bersabda: Ia tiada akan mengadzabnya' . ( Lihat: Sohih Muslim dengan syarh dari an-Nawawi jilid: 1 halaman: 230-232).

Hadits diatas jelas bahwa maksud dari Sholeh adalah setiap orang yang melakukan penghambaan penuh (ibadah) kepada Allah dan tidak melakukan penyekutuan terhadap Allah swt... Dan dikarenakan tawassul (mengambil wasilah) bukanlah tergolong penyekutuan Allah karena dilegalkan oleh Allah swt. maka para pelaku tawassul pun bisa masuk kategori orang Sholeh pula, jika ia melakukan peribadatan yang tulus dan tidak melakukan kesyirikan (penyekutuan Allah). Orang-orang sholeh semacam itulah yang dinyatakan dalam al-Qur'an sebagai pemancar cahaya Ilahi yang dengannya mereka hidup di tengah-tengah manusia.

Allah swt.. berfirman:

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan (QS al-An'am: 122).

Atau sebagaimana dalam firman Allah swt... lainya;

Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan ber- imanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepada mu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan dia mengampuni kamu. dan Allah Maha Peng- ampun lagi Maha Penyayang. (QS al-Hadid: 28).

Sebagaimana kita semua mengetahui bahwa, fungsi dan kekhususan cahaya adalah; ia sendiri terang dan mampu menerangi obyek lain. Begitu juga dengan manusia sholeh yang mendapat otoritas pembawa pancaran Ilahi.

Dari sini jelas sekali bahwa al-Qur'an telah menunjukkan kepada kita bahwa, para nabi dan manusia sholeh dari hamba-hamba Allah seperti peristiwa umat Isa al-Masih atau saudara-saudara Yusuf (anak-anak Ya'qub) telah melakukan tawassul. Dan al-Qur'an pun telah dengan jelas memberikan penjelasan tentang beberapa obyek tawassul. Tawassul tersebut bukan hanya sebatas berkaitan dengan do'a para manusia kekasih Ilahi itu saja, bahkan pada pribadi para manusia kekasih Ilahi itu juga. Hal itu karena antara pribadi para kekasih Ilahi dengan bacaan do'a mereka tidak dapat di pisahkan dan terjadi relasi (konsekuensi) yang sangat erat.

Tawassul melalui orang yang sudah wafat

Rasulullah bertawasul kepada nabi-nabi yang sudah wafat sebelum beliau:

"Dan sahabat Nabi Anas bin Malik, bahwasanya Nabi Muhammad Saw. berkata dalam do'a beliau begini : Ya Allah, ampunilah Fatimah binti Asad dan lempangkanlah tempat masuknya (ke kubur) dengan hak Nabi Engkau dan Nabi-nabi sebelum saya. Engkau yang paling panjang dari sekalian yang panjang". (Had its riwayat Imam Thabrani - lihat kitab Syawahidul haq hal. 154).

Tawassul melalui orang yang belum lahir

Ada beberapa ayat Al Quran dan hadis yang menyebutkan adanya tawasul kepada orang yang belum lahir.

Tawasul Nabi Adam a.s kepada Rasulullah

Tawasul ini disebut di dalam Al Quran

Penjelasan hadis juga ada. Potongan hadis (lengkapnya silakan lihat di dalil-berdoa-tawasul, dalil ke sebelas):

"Berkata Rasulullah Saw. : Pada ketika telah membuat kesalahan Nabi Adam, ia bertaubat dan berkata : Hai Tuhan, saya mohon kepada-Mu dengan hak Muhammad supaya Kamu ampuni saya.

Nabi Adam a.s sudah bertaubat dengan bertawasul dengan nabi Muhammad s.a.w, padahal nabi Muhammad s.a.w belum lahir ke dunia.

Tawasul orang Yahudi kepada Rasulullah

Disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 89 :

Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka [70] , padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la'nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.

Dalam ayat tersebut dikemukakan bahwa orang Yahudi sudah bertawasul dengan seorang nabi yang akan muncul, yang kemudian ternyata nabi itu adalah nabi Muhammad s.a.w. Dalam ayat tersebut terdapat kritikan bahwa setelah nabi tersebut datang, orang Yahudi malah ingkar dengan nabi tersebut (Muhammad s.a.w). Amalan tawasul orang Yahudi itu sendiri tidak dianggap perbuatan keliru.

 

=== sekian ===

Orang-orang yang mereka

Orang-orang yang mereka berdoa kepadanya, mereka sendiri mencari wasilah kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang paling dekat (kepada-Nya); mereka mengharapkan rahmat-Nya, dan mereka takut kepada adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Rabb-mu adalah sesuatu yang harus ditakuti.” (QS:Al Israa’57).

“Wahai orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah untuk sampai kepada-Nya dan berjihadlah di jalan-Nya, supaya kamu berbahagia.” (QS: Al-Maidah 35).

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab, ayat : 56)

Allah SWT berfirman:
Mereka berkata: Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)(QS Yusuf:97).

Ya'qub berkata: Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang'(QS Yusuf:98)

Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad saw.) lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul (Muhammad saw.) pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang (An Nisa' 64).

Sesungguhnya Allah adalah

Sesungguhnya Allah adalah tuhanku dan tuhanmu,maka sembahlah Dia.ini adalah jalan yang lurus. maryam 36
Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak" maryam 88

Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (didalam gua);kepunyaanNyalah semua yang tersenbunyi di langit dan di bumi .Alangkah terang penglihatanNya dan alangkah tajam pendengaranNya;tidak ada seorang PELINDUNG pun bagi meraka selain daripadaNya;dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutuNya dalam menetapkan keputusan. Al-Kahfi 26

Dan harta kekayaannya dibinasakan,lalu dia membalik-balikkan kedua tangannya(tanda menyesal)terhadap apa yang telah dia belanjakan untuk itu,sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata; "Aduhai,kiranya dahulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Tuhanku." Al-Kahfi 4

Yaa Marhaba'

Wahai Manusia yang belum paham-paham juga, coba anda simak baik-baik kalimat Tawasul....

YAA ALLAH AKU MEMOHON KEPADAMU YAA ALLAH, AKU MEMINTA KEPADAMU YAA ALLAH DENGAN AKU BERTAWASUL KEPADA KEKASIHMU NABI MUHAMMAD SAW MAKHLUQ ENGKAU YANG PALING ENGKAU CINTAI DAN PALING ENGKAU KHUSUSKAN, MUDAH-MUDAHAN DENGAN KARENA KECINTAANKU KEPADA KEKASIH ENGKAU NABI MUHAMMAD SAW SERTA KELUARGANYA, MAKA ENGKAU YAA ALLAH MAU MEMPERKENANKAN HAJAT, DOAKU......

coba kalian simak tawasul di atas (YAA ALLAH AKU MEMOHON KEPADAMU YAA ALLAH, AKU MEMINTA KEPADAMU YAA ALLAH ) , kita minta kepada siapa? kita menyembah siapa? jangan asal bicara bid'ah, pahami betul-betul yaaaaaaaa...........

dan coba anda pelajari dan resapi siapa dan bagaimana kedudukan Rasulullah SAW ini? sebelum kalian menyesal di alam kubur atau di alam mahsyar nanti, atau di yaumil mizan, atau di shirot mustaqim.........

pelajari AL Qur'an, AL HAdits, banyak pelajari kitab, jangan hanya satu kitab, bersikap husnudzonlah kepada ALLAH TA'AALA... jadi nantinya ga seenaknya bicara bid'ah... ibadah kok di bilang Bid'ah? apakah ini bukan fitnah?

tak da beza dgn orang

tak da beza dgn orang kristian tawasul dgn nabi isa

tawassul

Kalau bertawassul dengan manusia yang tak diketahui soleh atau tidak . Tetapi yakin akan amalannya . Harap reply .

ORANG BERCAKAP-CAKAP DALAM

ORANG BERCAKAP-CAKAP DALAM AIR,KAMU BERADA DI DARATAN BOLEH DENGAR KE PERCAKAPAN ORANG DALAM AIR TU ???????

tawasul

Bertawasul kepada orang yang sudah wafat itu ngga boleh, bisa masuk ke dalam kesyirikan, karena si mayit tidaklah punya kemampuan apa2 lagi terhadap amalnya. Lagipula para sahabat tidak pernah bertawasul kepada Rasulullah sepeninggal beliau, akan tetapi beliau datang kepada Paman belaiau Al Abbas Radiyallahu `anhu.

Jika anda mau mendapatkan penjelasan yang lebih banyak, silahkan merujuk ke kitab Tauhid karangan Syaikh Muhammad Ibn Abdil Wahhab. Hati-hati terhadap perkara ibadah yang tidak pernah diserukan oleh Rasulullah karena itu adalah bid`ah dan bid`ah tidaklah menghasilkan pahala kecuali kesesatan semata.

Hadakallah

Benar!!! Sekali-kali tidak!

Benar!!! Sekali-kali tidak! Kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan(pengikut-pengikutnya) terhadapnya dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka. maryam 82

kalu mengikut buku tauhid

kalu mengikut buku tauhid wahabi rekaan si tolol wahab, Nabi Adam As sudah melakukan kesyirikan kerana Nabi Adam AS juga telah bertawassul menggunakan nama Nabi Muhammad SAW? apakah darjat si tolol wahab ini sudah bersih sudah tinggi?

erg

anda benar ,bahkan tawassul pada , sidarta gautama pun memang manjur kok.

shodaqta, shoh kalamukum.....

shodaqta, shoh kalamukum..... dasar Manusia-manusia Akhir zaman mudah bicara sesat, mudah bicara bid'ah, ini fitnah besar dasar wahabi goblok berani beraninya fitnah sesat..... si goblok wahabi itu adalah munafiq, musuh dalam selimut......coba kalian baca AL Qur'an surat AL Baqoroh ayat 36-37 tentang sebab musabab/wasilah Nabi Adam di ampuni oleh ALLAH TA'AALA karena apa? wahai wahabi tolol, jangan sok pintar.... pelajari AL Qur'an AL Hadits...pelajari sejarah..., bahwa Empat Imam Madzhab (Imam Syafi'i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Malik, Imam Abu Hanifah) dan Imam AL Asy'ari dan Imam Al Maturidi itu sangat membenarkan mengenai Tawsul...

jadi kalian mau ikutin siapa kalau bukan ulama... para imam di atas itu di antaranya yang sanad-sanadnya kuat... para imam Fiqih (fuqoha) dan Imam Ushuluddin.

ketahui si Wahab imam kamu itu adalah pengkhianat agama... tukang fitnah agama, saudara se muslim di fitnah sesat....

Wahai Wahabi tolol kalian sombong banget yaaa Nabi Kami yaitu kepada Rasulullah SAW..... untungnya Nabi Kami ini mempunyai kasih sayang yang extra ordinary, kalau tidak, Beliau SAW akan munajah kepada ALLAH TA'AALA supaya di datangkan Bala' kepada kalian, untungnya Rasulullah SAW Nabi Kami ini adalah Rahmatan lil 'alamin buat semua makhluq termasuk kalian wahai wahabi tolol, cuma kalian tidak tahu diri waha wahabi kalian

Nabi Adam AS yg sudah tentu

Nabi Adam AS yg sudah tentu dan sahih kenabiannya melakukan kesyirikan? ngakk masuk akal si tolol wahab ini

tawasul membawa syirik

  • Tawasul hakekatnya adalah meminta agar Allah yang menjadikan, bukan agar makhluk yang menjadikan.
  • Tawasul para sahabat kepada paman Nabi Abbas r.a. adalah salah satu metode tawasul. Bukan berarti cara lain tidak ada.
  • Tawasul kepada orang yang masih hidup pun dapat membawa kesyirikan, kalau kita yakin bahwa orang hidup itu yang menjadikan.

tawasul

coba sebutkan riwayat yang menerangkat bahwa para sahabat radiallahu anhu ajma'in pernah bertawasul dengan mayit....ingat jgn anda pergunakan riwayat palsu karena banyak riwayat yang ada pada tulisan anda tidak jelas kebenarannya..........

perkara khilafiah

Perkara tawasul termasuk perkara khilafiah para ulama, terutama tentang bertawasul dengan perantara orang yang sudah wafat. Dari kelompok 'Salafi'/'Wahabi' umumnya menganggap tawasul dengan perantara orang yang sudah wafat sebagai syirik. Dari kelompok Sunni rata-rata berpendapat tawasul dengan perantara orang yang sudah wafat hukumnya sunat.

Perkara ini banyak didiskusikan, antara lain:

Tawassul dgn orang yg belum

Tawassul dgn orang yg belum lahir ?? bagaimana bisa orang yg belum ada di dunia ini , belum melakukan amal kebaikan dan ibadah, dll dimintain tawassul? Ini secara akal sehat saja sudah tidak mungkin.

Kemudian tawssul dengan orang2 yg sudah wafat, ini bener2 syirik mas. Bagaimana bisa dikatakan sunah? Hadis yg anda sebut diatas itu sanadnya gimana? Kok bertentangan dengan ayat ini :
"Dan janganlah kamu menyembah (memohon/meminta) apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudarat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang lalim

Tawasul itu meminta kepada

Tawasul itu meminta kepada Allah dengan perantara, bukan minta kepada perantara tersebut. Harap dibedakan. Yang punya kuasa itu Allah semata, bukan manusia hidup maupun manusia yang sudah wafat, ataupun manusia yang belum lahir.

Tawasul dengan orang belum lahir memang aneh kalau pakai akal manusia zaman sekarang. Tapi hal ini ditulis di dalam Al Quran, ada juga di Hadis, jadi nampaknya yang salah adalah akal kita ini. Kita maunya memahami agama berdasarkan maunya kita saja.

Tawasul dengan orang wafat itu tidak sama dengan menyembah orang wafat. Bagi orang yang paham tauhid, orang wafat maupun orang hidup sama-sama tidak ada kuasa. Bertawasul bukan berdasarkan atas kekuasaan orang yang jadi perantara tawasul, tapi berdasarkan kemuliaan orang yang dijadikan perantara tersebut.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer