warning: Creating default object from empty value in /usr/home/www.kawansejati.org/html/program/lib.php on line 582.

Tawasul dalam Al Quran





Untitled Document




Dalam tulisan ini disajikan beberapa ayat dalam Al Quran yang menyebutkan mengenai tawasul.

Tawasul pengikut nabi Isa a.s.: Ali Imran 49

Allah swt. berfirman:

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka) : Sesungguhnya aku (Nabi Isa as.) telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung, Kemudian aku meniupnya, Maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman' . Ali Imran ayat 49

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa para pengikut Isa al-Masih ber-tawassul kepadanya untuk memenuhi hajat mereka, termasuk menghidup- kan orang mati, menyembuhkan yang berpenyakit sopak dan buta. Tentu, mereka bertawassul kepada nabi Allah tadi bukan karena mereka meyakini bahwa Isa al-Masih memiliki kekuatan dan kemampuan secara independent dari kekuatan dan kemampuan Maha Sempurna Allah swt.., sehingga tanpa bantuan Allah-pun Isa mampu melakukan semua hal tadi.

Tetapi mereka meyakini bahwa Isa al-Masih dapat melakukan semua itu (memenuhi berbagai hajat mereka) karena Nabi Isa as. memiliki kedudukan khusus' ( jah /wajih ) di sisi Allah, sebagai kekasih Allah, sehingga apa yang di inginkan olehnya niscaya akan dikabulkan atau diizinkan oleh Allah swt. Ini bukanlah tergolong syirik, karena syirik adalah; Meyakini kekuatan dan kemampuan Isa al-Masih (makhluk Allah) secara independent (merdeka) dari kekuatan dan kemampuan Allah. Sudah tentu, muslimin sejati selalu yakin dan percaya bahwa semua kekuatan dan kemampuan yang dimiliki oleh makhluk Allah swt. tidak akan terjadi kecuali dengan izin Allah swt.. Namun aneh jika kelompok Wahabi langsung menvonis musyrik bagi pelaku tawassul/istighotsah kepada para kekasih Ilahi semacam itu.

Referensi:

  • K.H. Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama volume 1, Penerbit Pustaka Tarbiyah Jakarta, 2003, bab"Masalah Tawassul Dalam Mendoa"

Tawasul anak-anak nabi Ya'kub: Yusuf 97 & 98

Dalam surat Yusuf ayat 97, Allah swt.. berfirman:

Mereka berkata: Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)' .

Jika kita teliti dari ayat ini maka akan dapat diambil pelajaran bahwa, para anak-anak Ya'qub as. mereka tidak meminta pengampunan dari Ya'qub sendiri secara independent tanpa melihat kemampuan dan otoritas mutlak Ilahi dalam hal pengampunan dosa. Namun mereka jadikan ayah mereka yang tergolong kekasih Ilahi (nabi) yang memiliki kedudukan khusus di mata Allah sebagai wasilah (sarana penghubung) permohonan pengampunan dosa dari Allah swt.. Dan ternyata, nabi Ya'qub pun tidak menyatakan hal itu sebagai perbuatan syirik, atau memerintahkan anak-anaknya agar langsung memohon kepada Allah swt., karena Allah Maha mendengarkan segala per- mohonan dan do'a, malahan nabi Ya'qub as menjawab permohonan anak-anaknya tadi dengan ungkapan:

Ya'qub berkata: Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang' (QS Yusuf: 98).

Mohon ampun melalui Nabi Muhammad s.a.w : An Nisa' 64

Dalam surat an-Nisa' ayat 64, Allah swt. berfirman:

Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad saw.) lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul (Muhammad saw.) pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang .

Dari ayat di atas juga dapat diambil pelajaran yang esensial yaitu bahwa, Rasululah saw. sebagai makhluk Allah yang terkasih dan memiliki keduduk- an ( jah/maqom/wajih ) yang sangat tinggi di sisi Allah sehingga diberi otoritas oleh Allah swt.untuk menjadi perantara (wasilah) dan tempat meminta pertolongan ( istighotsah ) kepada Allah swt..

Semua ahli tafsir al-Qur'an termasuk Mufasir Salafi/Wahabi setuju bahwa ayat An-Nisa: 64 itu diturunkan ketika suatu saat sebagian sahabat melakukan kesalahan. Yang kemudian mereka sadar atas kesalahannya dan ingin bertaubat. Dan mereka meminta ampun secara langsung kepada Allah, tapi lihat bagaimana Allah swt. telah meresponnya:

  • Allah menolak untuk menerima permohonan ampun secara langsung, Dia memerintahkan mereka untuk terlebih dahulu mendatangi Rasulallah saw dan kemudian memintakan ampun kepada Allah swt, dan Rasulallah saw. juga diminta untuk memintakan ampun buat mereka. Dengan demikian Rasulallah saw. bisa dijuluki sebagai Pengampun dosa secara kiasan /majazi sedangkan Allah swt. sebagai Pengampun dosa yang hakiki /sebenarnya.
  • Allah memerintahkan sahabat untuk bersikap seperti yang diperintahkan (menyertakan Rasulallah saw. dalam permohonan ampun mereka) hanya setelah melakukan ini mereka akan benar-benar mendapat pengampunan dari Yang Maha Penyayang.

Lihat firman Allah swt. itu malah Dia yang memerintahkan para sahabat untuk minta tolong pada Rasulallah saw. untuk berdo'a pada Allah swt. agar mengampunkan kesalahan-kesalahan mereka, mengapa para sahabat tidak langsung memohon pada Allah swt.? Bila hal ini dilarang maka tidak mungkin Allah swt. memerintahkan pada hamba-Nya sesuatu yang tidak diizinkan-Nya ! Dan masih banyak lagi firman Allah swt. meminta Rasul-Nya untuk memohonkan ampun buat orang lain umpamanya:

  • Ali Imran:159: " Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka ..."
  • An Nisaa':106: " dan mohonlah ampun kepada Allah "
  • QS An Nuur :62: "... dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah "
  • Muhammad :19: " mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan "
  • Al Mumtahanah :12: " dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka "
  • Al Munaafiquun: 5. ".. Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu " .

Referensi:

  • K.H. Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama volume 1, Penerbit Pustaka Tarbiyah Jakarta, 2003, bab "Masalah Tawassul Dalam Mendoa"

Tawasul Nabi Sulaiman : An Naml 38-40

Firman Allah swt.:

"Sulaiman berkata, 'Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin berkata, 'Aku akan datangkan kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu, sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya'. Seseorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab berkata, 'Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.' Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak dihadapannya, ia pun berkata, 'lni termasuk kurnia Tuhanku.' " (QS. an-Naml: 38 - 40).

Firman Allah swt. itu menerangkan bahwa Nabi Sulaiman as. ingin mendatangkan singgasana Ratu Balqis dari tempat yang jauh dalam waktu yang cepat sekali. Hal ini merupakan kejadian yang luar biasa, sehingga Nabi Sulaiman as. dengan pengetahuan yang cukup luas mengatakan bahwa hal ini tidak mungkin terjadi kecuali dengan kekuasaan Allah. Dan pada saat itu Nabi Sulaiman as. tidak minta tolong langsung pada Allah swt. melainkan minta tolong kepada makhluk Allah swt. untuk memindahkan singgasana Ratu Balqis tersebut. Semua ini ialah dalil yang menunjukkan bahwa minta tolong pada orang lain tidak menafikan ketauhidan kita kepada Allah swt.. baik itu dilakukan secara ghaib maupun secara alami . Syirik adalah urusan hati.

Jika Nabi Sulaiman as. meminta perkara ghaib ini dari para pengikutnya, dan jika seorang laki-laki yang mempunyai sedikit ilmu dari al-Kitab mampu melaksanakan permintaan itu, maka tentu kita terlebih lagi boleh meminta kepada orang yang mempunyai seluruh ilmu al-Kitab yaitu Rasulallah saw. dan Ahlu-Baitnya. Begitu juga menurut para ahli tafsir yang mendatangkan singgasana ratu Balqis itu jelas bukan Nabi Sulaiman sendiri tetapi orang lain, karena dalam ayat ini Nabi Sulaiman bertanya kepada ummatnya dan salah satu dari ummatnya yang mempunyai ilmu sanggup mendatangkan singgasana itu dengan sekejap mata. Dengan demikian seorang yang mempunyai ilmu ini bisa dijuluki juga sebagai Penolong/Pemindah singga-sana Ratu Balqis secara kiasan sedangkan Penolong/Pemindah yang hakiki /sebenarnya ialah Allah swt..

Sama halnya orang yang meminum obat untuk menyembuhkan suatu penyakit. Obat ini bisa dijuluki secara kiasan /majazi sebagai Penyembuh Penyakit tersebut sedangkan Penyembuh Penyakit yang hakiki /sebenarnya adalah Allah swt.

Referensi:

  • K.H. Sirajuddin Abbas, 40 Masalah Agama volume 1, Penerbit Pustaka Tarbiyah Jakarta, 2003, bab "Masalah Tawassul Dalam Mendoa"

Tawasul Nabi Adam a.s : Al Baqarah 37

Firman Allah swt.yang berbunyi:

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang . (Al-Baqarah :37)

Menurut ahli tafsir kalimat-kalimat dari Allah yang diajarkan kepada Nabi Adam as. pada ayat diatas agar taubat Nabi Adam as. diterima ialah dengan menyebut dalam kalimat taubatnya bi-haqqi (demi kebenaran) Nabi Muhammad saw. dan keluarganya. Makna seperti ini bisa kita rujuk pada kitab:

  • Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Al-Maghazili As-Syafi'i halaman 63, hadits ke 89;
  • Yanabi'ul Mawaddah, oleh Al-Qundusui Al-Hanafi, halaman 97 dan 239 pada cet. Istanbul,. halaman 111, 112, 283 pada cet. Al-Haidariyah;
  • Muntakhab Kanzul Ummal, oleh Al-Muntaqi, Al-Hindi (catatan pinggir)
  • Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1, halaman 419;
  • Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi'i, jilid 1 halaman 60;
  • Al-Ghadir, oleh Al-Amini, jilid 7, halaman 300 dan Ihqagul Haqq, At-Tastari jilid 3 halaman 76.
  • Pendapat Imam Jalaluddin Al-Suyuthi waktu menjelaskan makna surat Al-Baqarah :37 dan meriwayatkan hadits tentang taubatnya nabi Adam as. dengan tawassul pada Rasulallah saw.

Nabi Adam as. , manusia pertama, sudah diajarkan oleh Allah swt. agar taubatnya bisa diterima dengan bertawassul pada Habibullah Nabi Muhammad saw., yang mana beliau belum dilahirkan di alam wujud ini. Untuk melengkapi makna ayat diatas tentang tawassulnya Nabi Adam as. ini, berikut ini beberapa hadits Nabi saw. yang berkaitan dengan masalah itu:

Al-Hakim dalam kitabnya Al-Mustadrak/Mustadrak Shahihain jilid 11/651 mengetengahkan hadits yang berasal dari Umar Ibnul Khattab ra . (diriwayatkan secara berangkai oleh Abu Sa'id Amr bin Muhammad bin Manshur Al-Adl, Abul Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim Al-Handzaly, Abul Harits Abdullah bin Muslim Al-Fihri, Ismail bin Maslamah, Abdurrahman bin Zain bin Aslam dan datuknya) sebagai berikut, Rasulullah saw.bersabda:

Setelah Adam berbuat dosa ia berkata kepada Tuhannya: Ya Tuhanku, demi kebenaran Muhammad aku mohon ampunan-Mu'. Allah bertanya (sebenarnya Allah itu maha mengetahui semua lubuk hati manusia, Dia bertanya ini agar Malaikat dan makhluk lainnya yang belum tahu bisa mendengar jawaban Nabi Adam as.) : Bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal ia belum kuciptakan?!' Adam menjawab: Ya Tuhanku, setelah Engkau menciptakan aku dan meniupkan ruh kedalam jasadku, aku angkat kepalaku. Kulihat pada tiang-tiang Arsy termaktub tulisan Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulallah. Sejak saat itu aku mengetahui bahwa disamping nama-Mu, selalu terdapat nama makhluk yang paling Engkau cintai'. Allah menegaskan : Hai Adam, engkau benar, ia memang makhluk yang paling Kucintai. Berdo'alah kepada-Ku bihaqqihi (demi kebenarannya) , engkau pasti Aku ampuni. Kalau bukan karena Muhammad engkau tidak Aku ciptakan' .

Hadits diatas diriwayatkan oleh Al-Hafidz As-Suyuthi dan dibenarkan olehnya dalam Khasha'ishun Nabawiyyah dikemukakan oleh Al-Baihaqi didalam Dala 'ilun Nubuwwah, diperkuat kebenarannya oleh Al-Qisthilani dan Az-Zarqani di dalam Al-Mawahibul Laduniyyah jilid 11/62, disebutkan oleh As-Sabki di dalam Syifa'us Saqam, Al-Hafidz Al-Haitsami mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh At-Thabarani dalam Al-Ausath dan oleh orang lain yang tidak dikenal dalam Majma'uz Zawa'id jilid V111/253.

Sedangkan hadits yang serupa/senada diatas yang sumbernya berasal dari Ibnu Abbas hanya pada nash hadits tersebut ada sedikit perbedaan yaitu dengan tambahan:

Kalau bukan karena Muhammad Aku (Allah) tidak menciptakan Adam, tidak menciptakan surga dan neraka'.

Mengenai kedudukan hadits diatas para ulama berbeda pendapat. Ada yang menshohihkannya, ada yang menolak kebenaran para perawi yang meriwayatkannya, ada yang memandangnya sebagai hadits maudhu', seperti Adz-Dzahabi dan lain-lain, ada yang menilainya sebagai hadits dha'if dan ada pula yang menganggapnya tidak dapat dipercaya. Jadi, tidak semua ulama sepakat mengenai kedudukan hadits itu.

Referensi

=== sekian ===

"sebagaimana hadits yg

"sebagaimana hadits yg dikeluarkan oleh Abu Nu'aim, Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw rebah/bersandar dikuburnya dan berdoa : Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelummu, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang."

jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasul saw bertawassul di kubur, kepada para Nabi yg telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw (Istri Abu Thalib).

Assalam, Utk referensi anda

Assalam,

Utk referensi anda sekalian, silahkan buka situs ini:
http://carauntuk.com/apa-pengertian-tawasul

"Sebagaimana hadits yg dikeluarkan oleh Abu Nu'aim, Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw rebah/bersandar dikuburnya dan berdoa : Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelummu, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang."

jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasul saw bertawassul di kubur, kepada para Nabi yg telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw (Istri Abu Thalib).

komen tahlil & tawasul

salam.jangan emosi,apabila orang tidak sependapat dgn kita.setiap orang ada hujahnya masing-masing.itu bergantung kepada kadar ilmunya,kecerdasannya,warak takwanya,kesungguhannya,daya analisanya dan kejernihan hatinya.maka terputuslah keputusan yg tepat,kurang tepat dan meleset. membaca yasin,tasbih,tahmid,takbir dan selawat adalah baik.memberi orang makan adalah baik.masaalahnya ibadah tahlil ini tidak ada dalil didalam sunnah.sedangkan ianya satu perkara yg baik maka terjadilah iktilaf ulama.dan masaalah sampai atau tidak pahala kepada simati.kan bidaah itu terbahagi pada dua bidaah hasanah dan bidaah dholalah.kalau cepat-cepat mevonis sesuatu itu haram maka banyak ibadah yg tak boleh kita buat.contohnya tasauf,tarikat,uzlah,suluk,sifat 20 dan sebagainya.selagi tidak bercanggah dgn syariat boleh kita melakukan.kalau membuat sesuatu bercanggah dgn syariat itu adalah fasik.kalau mengikut anjuran syariat itu adalah wajib.kalau membuat sesuatu amalan tidak bertentang dgn syariat dah tentulah ianya harus.qaul sheikh abdl qadir al-jailani;jika timbul dalam fikiranmu @ kamu menerima sesuatu ilham kemukakan dahulu kpd al-quran & sunnah rasulnya.sekiranya sesuatu fikiran @ ilham itu bersalahan dgn alquran & hadis,maka janganlah kau turut & lakukan,kerna itu mungkin dari iblis;futuhul ghaib.tahlilan bukan ijma yg megharamkan tapi hanya khilaf ulama.pro @kontra masing-masing ada hujahnya.terpulanglah kepada individu untuk buat atau tidak.jangan mudah maghukum jika tidak cukup ilmu dan kajian yg mendalam dalam sesuatu hal yg samar

Apa saudara tahu apa yang dibaca saat Tahlilan?

Pada hakikatnya majelis tahlil atau tahlilan adalah hanya nama atau sebutan untuk sebuah acara di dalam berdzikir dan berdoa atau bermunajat bersama. Yaitu berkumpulnya sejumlah orang untuk berdoa atau bermunajat kepada Allah SWT dengan cara membaca kalimat-kalimat thayyibah seperti tahmid, takbir, tahlil, tasbih, Asma’ul husna, shalawat dan lain-lain.
Maka sangat jelas bahwa majelis tahlil sama dengan majelis dzikir, hanya
Apa saudara tahu yang dibaca saat Tahlilan?.. Kalau tahu maka saya yakin Anda tak akan mengatakan orang yang membaca QS Yaasiin, Tahlil, Takbir dan Tahmid sebagai orang yang sesat. Kalau saudara tidak tahu, berarti saudara hanya taqlid buta, su'udzan, dan memfitnah.

Semoga Allah mencerahkan pikiran Saudara yg tdk faham tentang tahlilan melalui WASILAH Artikel ini. Amiin...
Istilah atau namanya saja yang berbeda namun hakikatnya sama. (Tahlil artinya adalah lafadh Laa ilaaha illallah) Lalu bagaimana hukumnya mengadakan acara tahlilan atau dzikir dan berdoa bersama yang berkaitan dengan acara kematian untuk mendoakan dan memberikan hadiah pahala kepada orang yang telah meninggal dunia ? Dan apakah hal itu bermanfaat atau tersampaikan bagi si mayyit ?
Menghadiahkan Fatihah, atau Yaasiin, atau dzikir, Tahlil, atau shadaqah, atau Qadha puasanya dan lain lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan Nash yg Jelas dalam Shahih Muslim hadits no.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk Ibunya yg telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat menghajikan untuk Ibunya yg telah wafat”, dan Rasulullah SAW pun menghadiahkan Sembelihan Beliau SAW saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits no.1967). dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur (kesepakatan) Ulama seluruh madzhab dan tak ada yg memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : “Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai.
Jadi tak satupun ulama ikhtilaf dalam sampai atau tidaknya pengiriman amal untuk mayiit, tapi berikhtilaf adalah pd Lafadznya. Demikian pula Ibn Taimiyyah yg menyebutkan 21 hujjah (dua puluh satu dalil) tentang Intifa’ min ‘amalilghair (mendapat manfaat dari amal selainnya). Mengenai ayat : "DAN TIADALAH BAGI SESEORANG KECUALI APA YG DIPERBUATNYA, maka Ibn Abbas ra menyatakan bahwa ayat ini telah mansukh dg ayat “DAN ORAN ORANG YG BERIMAN YG DIIKUTI KETURUNAN MEREKA DENGAN KEIMANAN”,
Mengenai hadits yg mengatakan bahwa bila wafat keturunan adam, maka terputuslah amalnya terkecuali 3 (tiga), shadaqah Jariyah, Ilmu yg bermanfaat, dan anaknya yg berdoa untuknya, maka orang orang lain yg mengirim amal, dzikir dll untuknya ini jelas jelas bukanlah amal perbuatan si mayyit, karena Rasulullah SAW menjelaskan terputusnya amal si mayyit, bukan amal orang lain yg dihadiahkan untuk si mayyit, dan juga sebagai hujjah bahwa Allah memerintahkan di dalam Al Qur'an untuk mendoakan orang yg telah wafat : "WAHAI TUHAN KAMI AMPUNILAH DOSA-DOSA KAMI DAN BAGI SAUDARA-SAUDARA KAMI YG MENDAHULUI KAMI DALAM KEIMANAN", (QS Al Hasyr-10).
Mengenai rangkuman tahlilan itu, tak satupun Ulama dan Imam Imam yg memungkirinya, siapa pula yg memungkiri muslimin berkumpul dan berdzikir?, hanya syaitan yg tak suka dengan dzikir.
Didalam acara Tahlil itu terdapat ucapan Laa ilaah illallah, tasbih, shalawat, ayat qur’an, dirangkai sedemikian rupa dalam satu paket dg tujuan agar semua orang awam bisa mengikutinya dengan mudah, ini sama saja dengan merangkum Al Qur’an dalam disket atau CD, lalu ditambah pula bila ingin ayat Fulani, silahkan Klik awal ayat, bila anda ingin ayat azab, klik a, ayat rahmat klik b, maka ini semua dibuat buat untuk mempermudah muslimin terutama yg awam.
Atau dikumpulkannya hadits Bukhari, Muslim, dan Kutubussittah, Alqur’an dengan Tafsir Baghawi, Jalalain dan Ilmu Musthalah, Nahwu dll, dalam sebuah CD atau disket, atau sekumpulan kitab,
bila mereka melarangnya maka mana dalilnya ?,
munculkan satu dalil yg mengharamkan acara Tahlil?, (acara berkumpulnya muslimin untuk mendoakan yg wafat) tidak di Al Qur’an, tidak pula di Hadits, tidak pula di Qaul Sahabat, tidak pula di kalam Imamulmadzahib, hanya mereka saja yg mengada ada dari kesempitan pemahamannya.
Mengenai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1000 hari, atau bahkan tiap hari, tak ada dalil yg melarangnya, itu adalah Bid’ah hasanah yg sudah diperbolehkan oleh Rasulullah saw, justru kita perlu bertanya, ajaran muslimkah mereka yg melarang orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, siapa yg alergi dengan suara Laa ilaaha illallah kalau bukan syaitan dan pengikutnya ?, siapa yg membatasi orang mengucapkan Laa ilaaha illallah?, muslimkah?, semoga Allah memberi hidayah pada muslimin, tak ada larangan untuk menyebut Laa ilaaha illallah, tak pula ada larangan untuk melarang yg berdzikir pada hari ke 40, hari ke 100 atau kapanpun, pelarangan atas hal ini adalah kemungkaran yg nyata.
Bila hal ini dikatakan merupakan adat orang hindu, maka bagaimana dengan computer, handphone, mikrofon, dan lainnya yg merupakan adat orang kafir, bahkan mimbar yg ada di masjid masjid pun adalah adat istiadat gereja, namun selama hal itu bermanfaat dan tak melanggar syariah maka boleh boleh saja mengikutinya, sebagaimana Rasul saw meniru adat yahudi yg berpuasa pada hari 10 muharram, bahwa Rasul saw menemukan orang yahudi puasa dihari 10 muharram karena mereka tasyakkur atas selamatnya Musa as, dan Rasul saw bersabda : Kami lebih berhak dari kalian atas Musa as, lalu beliau saw memerintahkan muslimin agar berpuasa pula” (HR Shahih Bukhari hadits no.3726, 3727).
Sebagaimana pula diriwayatkan bahwa Imam Masjid Quba di zaman Nabi saw, selalu membaca surat Al Ikhlas pada setiap kali membaca fatihah, maka setelah fatihah maka ia membaca AL Ikhlas, lalu surat lainnya, dan ia tak mau meninggalkan surat al ikhlas setiap rakaatnya, ia jadikan Al Ikhlas sama dengan Fatihah hingga selalu berdampingan disetiap rakaat, maka orang mengadukannya pada Rasul saw, dan ia ditanya oleh Rasul saw : Mengapa kau melakukan hal itu?, maka ia menjawab : Aku mencintai surat Al Ikhlas. Maka Rasul saw bersabda : Cintamu pada surat Al ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari). Maka tentunya orang itu tak melakukan hal tsb dari ajaran Rasul saw, ia membuat buatnya sendiri karena cintanya pada surat Al Ikhlas, maka Rasul saw tak melarangnya bahkan memujinya.
Kita bisa melihat bagaimana para Huffadh (Huffadh adalah Jamak dari Al hafidh, yaitu ahli hadits yg telah hafal 100.000 hadits (seratus ribu) hadits berikut sanad dan hukum matannya) dan para Imam imam mengirim hadiah pd Rasul saw :
• Berkata Imam Alhafidh Al Muhaddits Ali bin Almuwaffiq rahimahullah : “aku 60 kali melaksanakan haji dengan berjalan kaki, dan kuhadiahkan pahala dari itu 30 haji untuk Rasulullah saw”.
• Berkata Al Imam Alhafidh Al Muhaddits Abul Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafiy Assiraaj : “aku mengikuti Ali bin Almuwaffiq, aku lakukan 7X haji yg pahalanya untuk Rasulullah saw dan aku menyembelih Qurban 12.000 ekor untuk Rasulullah saw, dan aku khatamkan 12.000 kali khatam Alqur’an untuk Rasulullah saw, dan kujadikan seluruh amalku untuk Rasulullah saw”.
ia adalah murid dari Imam Bukhari rahimahullah, dan ia menyimpan 70 ribu masalah yg dijawab oleh Imam Malik, beliau lahir pada 218 H dan wafat pada 313H
• Berkata Al Imam Al Hafidh Abu Ishaq Almuzakkiy, aku mengikuti Abul Abbas dan aku haji pula 7X untuk rasulullah saw, dan aku mengkhatamkan Alqur’an 700 kali khatam untuk Rasulullah saw. (Tarikh Baghdad Juz 12 hal 111).

jangan pake emosi hanya karena tidak sependapat

Assalamu'alaikum wwr. wb.

Astagfirulloh kok pd ngawur toh....
makanya membaca pemahaman ataupun pendapat orang lain itu jangan pakai emosi...
jadi logika dan imajinasi anda pada ngawur.......

kalimat mana yang menyatakan bahwa orang yang bertawassul itu pasti dikabul doanya di dunia?
di tulisan di atas hanya menjelaskan bolehnya dan keutamaan bertawassul kepada Nabi Muhammad dan orang-orang sholeh.

kalo koruptor bertawassul, apakah doanya akan dikabulkan? ya itu hak Alloh.
trus orang sholeh bertawasul , apakah doanya dikabulkan Alloh sgra di dunia? ya itu hak Alloh dan sesuai takdirNya.

kemudian mengenai Husein bin Ali bin Abi Thalib, apakah dengan beliau meninggal dan tidak selamat dari pembunuh itu kematian yang jelek?
Sahabat Umar Usman dan Ali juga meninggal ditusuk orang dari belakang, apakah mereka juga mndpt kematian yang jelek?
mereka itu berharap dan berdoa supaya meninggal sebagai Syuhada dan Alloh mengabulkannya.
meskipun tidak di medan perang melawan orang kafir, tapi kematian mereka bernilai syahid (coba baca lagi sejarah2nya).

Wallohu'alam bishowab.

Tawassul

Dalam membicarakan masalah agama selalu ada pro dan kontra. Begitu juga ketika membahas masalah tawassul. Yang terpenting, bagaimana kita menghormati pendapat yang pro, dan pendapat yang kontra. Kalau begitu, apa sih yang membuat seseorang berpendapat ada yang pro, dan ada yang kontra. Sederhana jawabannya, yaitu pola pikir, kapasitas otak dan budaya otak setiap manusia berbeda. Bacaan buku tiap orang berbeda ( ada yang membaca 100 buku, adan ada yang membaca 1000 buku). Ada yg berguru kepada 20 orang guru, ada juga yang berguru kepada 100 orang guru, dan sebagainya. Selain itu juga, cara mengambil sumber rujukan setiap orang tidak sama alias berbeda-beda. Nah, hal-hal seperti ini yang membuat terjadinya sebuah perbedaan pendapat atau perbedaan pandangan. Nah, dalam teori ilmu NLP hal-hal di atas disebut PETA PIKIRAN. Kesimpulannya, PETA PIKIRAN setiap orang berbeda-beda. Jadi, mari kita nikmati, enjoy dan fun terhadap setiap perbedaan itu. Sehingga dunia ini menjadi indah bukan? Selain itu, mari kita jadikan perbedaan itu sebagai "Universitas Kehidupan" kita. Alangkah indahnya, ketika 10 orang berkumpul, dan bersahabat masing-masing mengeluarkan pendapat yang berbeda. Itu, artinya, masing-masing dari kita belajar 9 ilmu perbedaan. Pada akhirnya, masing-masing mendapat tambahan 9 ilmu kebaikan. Semoga catatan sederhana ini menjadi renungan kita bersama. Semoga pula, kita tetap bersahabat, berbuat baik, santun dan berkasih-sayang terhadap seseorang yang berbeda pemikiran dan berbeda pendapat dengan kita.

asssalamualaikum wr wb para

asssalamualaikum wr wb
para hadirin yg dimulyakan allah cukuplah sudah kita slalu dan slalu memperdebatkan dan memikirkan perkara perkara yang dianggap ranting dalam agama.... cobalah buka permasalahan yang dianggap penting dalam agama,
karna banyak nya membicarakan masalah ini akan meruntuhkan sedikit demi sedikit ukhuwah islamiayah,,, jangan so pintar dan jangan so paling suci dan paling benar, karna benar menurut kita belum tentu benar menurut allh,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Agama itu keyakinan

Salam ukhuwah.....thanks utk ilmunya, pada prinsipnya agama itu adalah keyakinan yg ada di dlm dada masing-2 orang, terserah mau mengamalkan atau tidak...soal diterimanya suatu amalan atau tidak itu bukan urusan kita, asal kita sudah beribadah dengan meng-ihlas-kan diri, sesuai contoh Rasul saw yang maksum. Yang penting Muslim yang satu dengan Muslim lainnya adalah saudara, yang saling menguatkan. Perbedaan Umat ini adalah menjadi rahmat.
Dalam berdakwah gunakan cara : "mudahkan jangan kamu persulit, gembirakan jangan kamu takut takuti.
Yang dilarang itu orang yang tidak mau ibadah.
Ingat......orang yang masuk surga itu adalah orang yang diberi Rahmat oleh Allah, bukan sebab amalan seseorang.
Wallahua'lam.

Kalau para nabi bertawasul

Kalau para nabi bertawasul kepada nur muhammad (bshkan nur ahlulbait dlm syiah) sehingga contoh nabi isa as diselamatkan Allah dari kepungan tentara romawi kemudian Beliau diangkat ke langit(Biharal Anwar 26/325 Wasailusyiah jilid 4 hal 1134). Lantas pada kondisi yang sama, ketika Husein bin Ali bin abi thalib dikepung hingga gugur, beliau bertawassul kepada siapa??? kenapa nggak selamat seperti nabi Isa, atau N ibrahim dari pembakaran api? Apa husein bingung?

Doa kan nggak mesti

Doa kan nggak mesti dikabulkan di dunia, bisa juga ditunda untuk diberikan gantinya yang lebih baik di akhirat.

Husein atau para ulama yg bingung??

Siapakah yang BINGUNG -- Husein bin Ali bin abi thalib ataukah para ahlikitab yg menerangkan tafsir tawassul seperti yg diuraikan pa ustaz diatas? tafsir dari ayat2 diatas tidak bisa digeneralisasi sebagai aqidah bertawassul dengan arwah keramat. Apakah para arwah keramat bertugas jadi tukang pos doa? berarti mereka para arwah tidak lepas dari kewajiban dunia padahal sudah wafat dialam barzakh. Sebab kalau tidak mengantarkan doa alias jadi tukang pos doa, berarti tidak menjalankan kewajiban. Dan sebaliknya bila jadi tukang pos doa, maka arwah tsb tambah pahalanya, biarpun yg bertawasul adalah koruptor atau ulama-musyrik.

thank atas artikelnya semoga

thank atas artikelnya semoga bermanfaat bagi qta semua,,
wasilah kalo di umpamakan begini apa mngkin qta ke istana presiden lngsung datang begitu saja ke presiden qan gak mngkin pasti melalui perantara,,
gini misalkan ingin menyampaikan sesuatu ke presiden pstilah melalui dari yg bawah dulu misalkan lurah membrikan hal tersebut kpd yg terdekat dahulu yaitu camat dan camat melimpahkan kpd bupati dan bupati melimpahkan kpd gubernur dan gubernur mnyampaikan kpd dpr dan mnyampaikan kpd MPR kalo sudah sampai ke MPR sudah pasti sampai ke presiden,,gitu jg dgn wasilah kpd alim ulama,, kalo sudah sampai kpd Rasulullah insya allah doa'a sampai kpd Allah krn rasulullah adalah kekasih Allah dan yg paling dekat dgn Allah,,,kalo ada orang yg brani bilang wasilah itu syirik berarti mengeluarkan pendapat bkn berdasarkan ilmu yg dimiliki,,krn mengerjakan sesuatu amalan tnpa didasari ilmu maka amalan ditolak,, semoga orang2 seperti itu mndapat hidayah oleh ALlah SWT,amiin

Mas... jangan mengecap bahwa

Mas... jangan mengecap bahwa hujjah anda pakai ilmu, sedangkan yg kontra tidak pakai ilmu. Yang kontra argumen pun ada dasarnya yg sangat kuat. Contoh: kalau masalah tawassul kepada nur muhammad adalah yg paling esensial sehingga taubat N. Adam diterima Allah, TAPI mengapa yg diabadikan dalam alquran adalah doa taubat-penyeslan dari N.Adam dan hawa... robbanaa dholamnaa anfusanaa wa inlam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna minal khosiriin... artinya tafsir teori bertawassul dg nur muhammad oleh n.adam adalah tertolak oleh bukti otentik alquran -- tafsir ayat bil ayat.

NGAJI TAFSIRNYA DIULANGI

NGAJI TAFSIRNYA DIULANGI YAHHH,,,,,
BIAR MANTEP ,,MANTAFASOR QURA'ANA BIRO'YIHI FALYATABAWA MAQ'ADAHU FINNAR''''
JANGAN JADI ORENTALIS

Doa taubat nabi Adam disebut

Doa taubat nabi Adam disebut di dalam Al Quran, sedangkan tawasul nabi Adam disebut di hadis. Keduanya tidak bertentangan. Tidak ada pernyataan di Al Quran bahwa Nabi Adam tidak bertawasul. Dalam Al Quran disebutkan lafaz do'anya, namun tidak ada penjelasan mengenai detail lainnya, seperti: posisi ketika berdo'a, apa wasilah yang dipakai untuk berdoa, berapa lama doanya, apakah ada doa lain selain yang disebut di Al Quran, dan sebagainya.

apa sih sebenarnya fungsi dr

apa sih sebenarnya fungsi dr tawasul???
apa pantas tawasul di pergunakan untuk mengetahui keburukan seseorang di masa lalu??knp bukan untuk d pakai mengingatkn diri sndiri bukan justru mengkorek2 kehidupan/privasi orang lain??!!!!!! adakah cara untuk menghindari tawasulan? tolong kirim k email saya.. kampretz_cholatez@rocketmail.com

Wasilah BUKAN Manusia

Assalamualaikum wr,wb

Berbicara soal tawasul, menurut saya pribadi bermakna: bagaimana seorang manusia menggunakan wasilah (milik ALLAH)/ berwasilah dalam melaksanakan munajat kepada atau beribadat menyembah ALLAH SWT.

Dalam banyak tulisan yang saya pernah baca di internet, semua memaknai wasilah itu adalah manusia, baik itu golongan Nabi/Rasul/Aulia/Mursyid, dll. Ada pula yang memaknai wasilah adalah perantara, jadi akhirnya sang Nabi/Rasul/Aulia/Mursyid adalah berperan sebagai wasilah/perantara bagi manusia yang bermunajat kepada ALLAH SWT, atau beribadat menyembah ALLAH SWT

Saya menemukan sebuah kajian mendalam soal ini. Kesimpulan yang saya dapat:
1. Dalam bermunajat kepada ALLAH SWT Wajib adanya wasilah (milik) ALLAH, yang berada/ditanamkan didalam dada Muhammad Rasulullah.
2. Wasilah (milik) ALLAH adalah BUKAN Manusia (Bukan Nabi/Rasul/Aulia/Mursyid, BUKAN PULA amal sholeh (seperti dimaknai sebagian banyak orang)
3. Wasilah (milik) ALLAH adalah unsur tersendiri yang datangnya dari ALLAH sebagaimana dijelaskan dalam surat An Nur: 35, ialah Nurun Ala Nur, Cahaya di atas Cahaya. Yang memiliki getaran/frekuensi tak berhingga (infinity) milik ALLAH SWT yang terbit dari ALLAH SWT diberikan kepada Nabi Muhammad SAW...yang berfungsi sebagai alat penyampai, bukan perantara pula. Penyampai segala munajat, ibadat sang Nabi dan ummatnya, langsung ke hadirat ALLAH swt.
4. Wasilah ALLAH itu wajib dipakai didada setiap ummat manusia, berfungsi menyampaikan munajat manusia ke hadirat sang Khalik.
5. Wasilah ALLAH itu diwarisi dari dada Rasulullah Muhammad SAW, turun menurun menerus melalui Sahabat, Aulia, Ulama warisatul anbiya...sampai kepada umat semuanya, seperti yang secara teknis diajarkan dan dipraktekkan kaum tarikat sufi.

Rujukan:
http://suraukita.org/suraukita2009/2010/Files/Prof.%20Kadirun%20Yahya/Fi...

http://suraukita.org/suraukita2009/2010/Files/Prof.%20Kadirun%20Yahya/Fi...

Mohon maaf bila terselip khilaf dari saya pribadi.

WASILAH ITU SYAREAT SEDANGKAN

WASILAH ITU SYAREAT SEDANGKAN ALLAH ADALAH HAKEKAT
GIMANA SIH SI MAS INI'''''''''''''''''''''''''''

Komentar Bertawasul

....Sedikit menambahkan, menurut hemat saya, perintah ber Tawasul seperti dituliskan oleh pak Ustadz di atas, bermakna ALLAH swt memerintahkan dan memberikan contoh, bagaimana seseorang yang ingin sampai kehadiratNYA;mengadakan hubungan denganNYA, wajib menggunakan wasilah (Nurun ala Nurin) yang oleh ALLAH swt telah diletakkan didalam dada (diri ruhani) orang-orang yang dikenhendakiNYA (Muhammad Rasulullah; sang wasilah carrier/pembawa wasilah milik ALLAH SWT, dari beliau diteruskan kepada ummatnya melalui ulama warisatul anbiya bidang ilmu keruhanian/tarikat sufi). Apapun yang diciptakan ALLAH diseluruh alam ini TIDAK akan ADA yang bisa SAMPAI kepadaNYA KECUALI yang berasal dari DIA sendiri....(Nurun ala Nurin = wasilah (milik) ALLAH = Tali (milik) ALLAH = frekuensi (milik) ALLAH). Q.S. An Nur:35. (Yang bisa sampai kepada matahari hanyalah sinar matahari sendiri; hukum fisika => ayat kauniyah)

Dengan mengkontak si pembawa wasilah (wasilah carrier), maka si fulan akan mendapatkan penerusan wasilah, dengan menggunakan wasilah tsb, si fulan bermunajat, lalu didoakan sang pembawa wasilah...dengan wasilah tersebut...tersampaikanlah (delivered) doa doa tersebut kehadirat ALLAH swt. ALLAH swt akan membalas doa manusia tersebut (seperti janjiNYA).

Untuk bisa beserta dengan Nurun ala Nurin, seseorang harus melewati proses pensucian/purification ruh/batin/jiwa dari unsur unsur syaitan dan nafsu rendah. Harus mengikuti proses suluk, dan dibimbing seorang Mursyid yang Kamil Mukamil. Tidak sembarang orang bisa menjalankan fungsi Mursyid.

Semoga kita semua mendapat hidayah dan inayah ALLAH swt dalam mencapai hadiratNYA. Amin

Mohon maaf bila ada khilaf dari saya pribadi

TIDAK ADA PERANTARA MANUSIA DAN ALLAH SWT

Dengan teknik Nurun ala Nurin....maka TIDAK ADA PERANTARAAN manusia dan ALLAH swt. Semua hubungan munajat terlaksana secara langsung TANPA PERANTARA. Alhamdulillah.

Nasi wasilah untuk

Nasi wasilah untuk mengenyangkan
Obat wasilah untuk mengobati
Hakekatnya Allah yg menjadikan kenyang dan yg mengobati
Tapi Allah suruhkita berwasilah dengan menggunakan benda2 tadi

Jadi kalo Allah yg suruh mengapa kita mau jadi penentang?

adakalanya tanpa makan minum mengenyangkan
Adalakanya tanpa obat bisa menyembuhkan...

Untuk bukti Maha Kuasanya Allah

Referensi untuk diskusi dengan yang melarang Tahlil

Kemarin saya diskusi dengan teman saya yang katanya beliau sekarang meninggalkan tahlil. Padahal dulu saya pernah mengajaknya untuk pergi ziarah ke makam waliyyullah. Mudah-mudahan argumen beliau untuk bisa menjadi sekarang ini tidak salah. Dan referensi ini mudah-mudahan bisa menjadi ke-keukeuh-an saya untuk tetap tawashul dan melakukan tahlil sekaligus bisa menjadi bahan diskusi dengan beliau juga. Terima Kasih Pak......

tawasul

apakah hadrah dan tahlil yang biasa kita jumpai pada setiap kematian itu ada dasarnya, mhn penjelasan trim ksh

ALI IMRAN AYAT 49 YUSUF AYAT

ALI IMRAN AYAT 49
YUSUF AYAT 97 S/D 98
ANNISA AYAT 64
ANNML AYAT 38 S/D 40
ALBAQOROH AYAT 37
KAJI TAPI DENGAN MEMAKAI ILMU TAFSIR

gini saja, coba tanyakan

gini saja, coba tanyakan kepada yg menanyakan hal tersebut : adakah hadist rasulullah yang melarang tahlil ?

gini loh mz ya bahwa semua

gini loh mz ya
bahwa semua ibadah itu pada awalnya hukumnya haram, kecuali telah turun dalil yg membolehkannya, tentunya dengan dalil yang kuat. (di sini saya tdk akan membahas lelanjutan sprti apa dalil yg shohih)
jadi seperti pertanyaan sodara :
adakah hadist rosul yg melarang tahlillan ( mungkin tahlillan ini yg anda maksud, bukan tahlil...soalnya kalau tahlil banyak hadist yang menyuruh kita untuk melakukannya)
maka pertanyaan sodara sama dengan adakah hadist yang melarang orang sholat subuh 4 rekaat dst....dst....
jd semoga penjelasan saya bisa di mengerti.
bahwa tajlillan di jaman roullullah, jaman sahabat, jaman tabi'in, tabiut tabi'in itu tidak pernah ada.
kenapa sekarang koq tiba-tiba ada ritual semacam itu...
semoga Allah subhanallahuwata'ala membuka jalan pemahaman kepada orang-orang yang melakukan tahlillan ini ke alan yang benar....

Kenapa Saudara menyebutnya

Kenapa Saudara menyebutnya Ritual (bukan ibadah). Apakah Saudara tahu bacaan apa saja yang dibaca saat tahlilan? Jika tahu, saya yakin saudara tidak akan berani mengatakan orang yang membaca Yaasin, bertakbir, bertahmid dan bertasbih sebagai orang yang sesat. Jika tidak tahu, berarti saudara hanya taqlid buta, su'udzan dan memfitnah, karena berani memvonis sesuatau yang tidak diketahuinya.
Tentang apakah pelaksanaan Tahlilan karena Tradisi. Tidak, Tahlilan dilaksanakan karena beribadah dan berdzikir (ingat) kepada Allah dan ditradisikan atau dibiasakan supaya manusia terbiasa mengingat Allah SWT. Apakah Saudara sudah tercukupi hanya sholat 5 waktu tanpa dzikir?, sedangkan syaithon lebih punya banyak waktu untuk menggoda di luar waktu sholat. Ummat Islam itu berperangnya melawan syaithon dan hawa nafsu, bukan melawan dan mengkafirkan ummat Islam yang lain yang tidak sesekte dengannya. Wallahu A'lam.

mari tahlilan

Mari kita tahlilan, mari kita baca: la ilaha ilallah...tiada Tuhan selain Allah.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer