Tawasul pada orang yang sudah wafat

Menurut hadis-hadis, ada beberapa perkara yang dapat dijadikan wasilah untuk tawasul:

  • amal soleh
  • orang yang masih hidup
  • orang yang sudah mati
  • orang yang belum lahir

Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Tawasul dengan amal soleh

"Dan Ibnu 'Umar Rda., dari Nabi Muhammad Saw. beliau menceritakan : Adalah tiga orang berjalan ke luar kota, tiba-tiba hujan turun, maka mereka ketiganya masuk berlindung ke dalam sebuah gua pada suatu bukit. Kebetulan kemudian batu besar jatuh menutupi pintu gua mereka. Salah seorang di antara mereka berkata kepada kawannya : Berdo'alah kepada Tuhan dengan berkat amal saleh yang engkau kerjakan. Lalu salah seorang dari pada merekn berdo'a : Ya Allah, dahulu ada dua orang ibu-bapa saya yang sudah tua. Saya keluar menggembala dan saya perah susu gembalaanku lalu saya bawa susunya pulang. Saya beri minum ibu-bapak, anak-anakku, familiku dari isteriku dengan susu itu. Pada suatu hari saya terlambat pulang, saya dapati ibu-bapaku sudah tidur, saya tidak suka mengagetkan mereka dengan memhbngunkannya, padalial anak-anak bertangisan minta susu di bawah kakiku. Begitulah saya hingga sampai pagi.
Ya Allah, kalau Engkau tahu bahwasanya saya memperbuat amal itu karena semata-mata karena ntengharapkan keredhaan Engkau, maka bukalah pintu gua ini sehingga kami dapat melihat langit. Maka pintu gua dibukakan oleh Tuhan sepertiganya" (Hadits sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim - lihat Sahih Bukhari II hal 17- 18).

Tawasul dengan orang yang masih hidup

Sayidina Umar bertawasul kepada Sayyidina Abbas. Hal ini termasuk karamah Sayidina Abbas .

"Dari Anas (bin Malik), bahwasanya 'Umar bin Khatab Rda. adalah apabila terjadi kemarau, minta hujan ia dengan Abas bin Abdul Muthalib, maka beliau berkata : "Ya Allah bahwasanya kami telah tawassul kepada Engkau dengan Nabi kami, maka Engkau turunkan hujan, dan sekarang kami tawassul kepada Engkau dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan itu." (Hadits ini dirawikan oleh Imam Bukhari dan Baihaqi - lihat Sahih Bukhari I hal. 128 dan Baihaqi (Sunan al Kubra) II hal. 352).

Tawasul dengan orang yang sudah mati

Rasulullah bertawasul kepada nabi-nabi yang sudah wafat sebelum beliau:

"Dan sahabat Nabi Anas bin Malik, bahwasanya Nabi Muhammad Saw. berkata dalam do'a beliau begini : Ya Allah, ampunilah Fatimah binti Asad dan lempangkanlah tempat masuknya (ke kubur) dengan hak Nabi Engkau dan Nabi-nabi sebelum saya. Engkau yang paling panjang dari sekalian yang panjang". (Had its riwayat Imam Thabrani - lihat kitab Syawahidul haq hal. 154).

Tawasul dengan orang yang belum lahir

Potongan hadis (lengkapnya silakan lihat di dalil-berdoa-tawasul, dalil ke sebelas):

"Berkata Rasulullah Saw. : Pada ketika telah membuat kesalahan Nabi Adam, ia bertaubat dan berkata : Hai Tuhan, saya mohon kepada-Mu dengan hak Muhammad supaya Kamu ampuni saya.

Nabi Adam a.s sudah bertaubat dengan bertawasul dengan nabi Muhammad s.a.w, padahal nabi Muhammad s.a.w belum lahir ke dunia.

Selain itu dalam surat Al Baqarah ayat 89 juga dikemukakan bahwa orang Yahudi sudah bertawasul dengan nabi Muhammad. Dalam ayat tersebut yang dikritik adalah bahwa orang Yahudi setelah itu malah ingkar dengan nabi Muhammad. Amalan tawasul orang Yahudi itu sendiri tidak dianggap perbuatan keliru.

Artikel ini dibuat sebagai respon atas http://kawansejati.ee.itb.ac.id/dalil-berdoa-tawasul#comment-5453

 

Post new comment

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer