Arti Jihad

Kata jihad ini berasal dari bahasa Arab dan sekarang sudah menjadi bahasa internasional. Setiap orang Islam ataupun bukan Islam apa pun kaum dan bangsanya sekarang ini banyak menyebut kata jihad. Orang Cina, Islam, Eropah pun faham menyebut jihad. Begitu juga orang Melayu, Indonesia, Pakistan dan orang Arab sendiri. Kata jihad sudah menjadi bahasa bersama umat Islam dan bukan Islam di seluruh dunia.

Istilah jihad ini berasal dari bahasa Arab. Kalau diterjemahkan ke bahasa Melayu secara `word by word` atau `lafzan bil lafzi` kata jihad ini bermaksud sungguh-sungguh, bukannya berjuang. Kata jihad ini berasal dari perkataan jahada, yajhudu, juhdan atau jihadan.

  • Jahada artinya dia bersungguh-sungguh.
  • Ajhadu artinya dia sedang atau akan bersungguh-sungguh.
  • Jihadan artinya kesungguhan. Juhdan – kesungguhan.
  • Jihad ertinya bersungguh-sungguh.

Jadi pengertian jihad mengikut istilah ialah bersungguh-sungguh mengeluarkan tenaga yang ada dalam diri seseorang itu baik tenaga lahirnya mahupun batinnya, tenaga akal, tenaga jiwa, tenaga fiziknya, digunakan untuk menegakkan sesuatu yang akan diperjuangkan dan bergantung dengan niat masing-masing. Orang sosialis sudah tentu akan menggunakan tenaganya untuk menegakkan fahaman sosialis. Orang komunis untuk fahaman komunisnya. Orang kapitalis untuk faham kapitalisnya. Orang nasionalis dengan faham kebangsaannya. Dan bagi orang Islam yang memiliki cita-cita Islam, dengan tenaga yang ada, dia perah tenaga lahir dan batin digunakannya untuk menegakkan Islam atau untuk menegakkan kalimah Allah.

Jihad ertinya bersungguh-sungguh iaitu bersungguh-sungguh memerah tenaga yang ada pada diri kita ini baik tenaga lahir mahupun batin untuk menegakkan apa yang kita cita-citakan. Kalau kita sebagai orang Islam yang ada cita-cita Islam tentulah hendak menegakkan Islam. Orang lain tentulah ada niat-niatnya tersendiri pula.

Jadi erti Jihad itu sendiri pada asalnya bersungguh-sungguh. Oleh karena orang bersungguh-sungguh ini adalah orang yang berjuang, yang sibuk ke hulu ke hilir, tidak peduli siang ataupun malam, sibuknya lebih sibuk daripada orang lain, maka sebab itu ianya diterjemahkan yang asalnya “bersungguh-sungguh” kepada “perjuangan”.

Sebab orang berjuang ini adalah orang yang bersungguh-sungguh menggunakan tenaga yang ada dalam diri. Orang yang tidak berjuang, kurang menggunakan tenaga yang ada dalam dirinya tetapi hanya sekadar saja yang digunakan. Tapi kalau orang yang berjuang, dia akan berhempas pulas, dia perah betul-betul tenaga yang ada dalam dirinya, baik tenaga fizik, tenaga otak, tenaga jiwanya untuk digunakan menegakkan cita-citanya. Jadi orang berjuang saja yang bersungguh-sungguh. Sebab itulah bersungguh- sungguh itu diertikan seperti mana yang kita faham “Perjuangan” dalam bahasa Arab `Jihad.

Poligami Sunnah Kekasih Allah

Poligami adalah sunnah para kekasih ALLAH: para Nabi, para Rasul, dan para wali. Karena itu, tentulah dalam poligami terdapat hikmah yang luar biasa. Tak mungkin ALLAH memerintahkan para kekasih-Nya untuk menzhalimi makhluk lain. Salah satunya adalah pendidikan. Tuhan ingin mendidik manusia untuk berlaku adil. Bukan mudah berlaku adil, tetapi adil adalah salah satu sifat taqwa (bahkan yang paling mendekati taqwa) yang WAJIB diusahakan.

Bagi sang suami, dia dilatih untuk bersikap adil dalam keluarga, terhadap 2, 3, atau ke-4 istrinya. Keadilan yang paling utama adalah adil dalam membawa keluarga untuk kenal Tuhan, cinta Tuhan dan takut Tuhan. Suami bertanggung jawab penuh dalam hal tersebut. Ini adalah pendidikan yang luar biasa…bayangkan, kita saja (laki-laki) belum tentu selamat menghadapi pertanyaan HAKIM YANG MAHA ADIL di Padang Mahsyar nanti, eh, ini ada beban pula 4 orang yang harus kita kenalkan pada Tuhan. Jika mereka tak kita kenalkan pada Tuhan, mereka berhak menuntut kita di Yaumul Akhir nanti dan itu bisa menyeret kita ke neraka, seburuk-buruk tempat menetap.

Bagi para istri, ini benar-benar sebuah ujian berat: cinta suami atau cinta Tuhan? Ujian ini memang amat berat. Hanya seorang perempuan yang betul-betul beriman saja yang mau mengorbankan perasaannya untuk cinta agung: ALLAH Yang Maha Tinggi. Sebenarnya untuk perempuan dengan keimanan yang tinggi, poligami justru sangat menguntungkan karena di saat “giliran” bukan milik dia itulah saat untuk berkasih-kasihan dengan Tuhan, suatu zat yang paling berjasa dan paling patut dicintai. Di saat sepi di malam hari itulah kita dapat mengadu pada ALLAH, sebab jika suami tak poligami, 24 jam sang istri harus melayani suami, melayani suatu makhluk yang sebenarnya hamba ALLAH juga

Poligami sangat mendidik nafsu. Poligami melatih kita berkorban. Surga ALLAH itu amat mahal. Hanya dapat diperoleh melalui pengorbanan yang besar. Jika untuk satu rumah di dunia saja -yang mungkin hanya kita tempati 20 tahun- kita mampu susah payah mengejarnya, apalagi ini? Rumah di surga itu sangat INDAH dan KEKAL, tentulah sangat mahal harganya.

Memburu cinta manusia, kita akan merugi karena cinta manusia tak kekal dan mengecewakan. Memburu cinta Tuhan tak akan rugi, bahkan membawa saling berkasih sayang antar manusia.

-Rizal-