Mengukir Takdir #1

Para filsuf adalah orang-2 yang mencari Tuhan dengan menggunakan akalnya. Ada yang tidak menemukan Tuhan dan mereka bilang Tuhan tidak ada. Ada yang putus asa dalam pencariannya hingga bunuh diri. Ada yang menemukan Tuhan dan mengimaninya.

Mencari Tuhan via olah akal adalah cara yang teramat sulit dan riskan, bisa jatuh pada kemungkinan-2 diatas.
Dan pada akhirnya mungkin dia akan berkata, “kalau saya nggak terlaluandaikan akal saya dalam mencari Tuhan, mungkin saya udah mendapatkan-Nya 20 tahun lebih awal”. 😉

Akal kita, gunakanlah untuk mengejar ciri-2 orang baik-2. Misalnya
menggunakan kecerdasan dan kejeniusannya untuk mencari-2 cara agar menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, karena sebaik-2 manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, diatas rasa kehambahaannya (diatas keinginan utk mengabdi pada Tuhannya).

Yang biasa terjadi adalah kecerdasan dan kejeniusan digunakan untuk cari dunia semata: nama, harta, kuasa.

Akal diciptakan memang untuk digunakan dengan kapasitas penuh. Menggunakan akal pada kapasitas penuh adalah tanda kita mensyukuri nikmat diberi akal. Konsep takdir pun juga tidak melarang orang untuk menjadi cerdas dan menggunakan akalnya dengan kapasitas penuh.

Kita memang masih perlu banyak contoh teladan saat ini, yaitu contoh orang-2 cerdas, orang-2 jenius yang menghamba pada Tuhannya.

Karena langkanya contoh teladan diatas, maka yang berlaku adalah stereotipe “orang ‘beriman’ itu kolot, anti-kemajuan, kurang ikhtiar, kurang guna akal”.

Ampun maaf.

-Indratmoko-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.